Gondelan Klambine Kanjeng Nabi

“Subhanalladzii asraa bi’abdihii laillan minal masjidil haraami ilal masjidil aqshaalladzii baarakna haulahuu linuriyahuu min aayaatinaa. Innahuu huwas samii’ul bashiiru.” (Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, QS Al Isra’: 1).

Bisa dipastikan tidak akan jengkep kalau kita ngomongin behind the moment of Lailan minal Masjidil Haram ilal Masjidil Aqshaa. Itu belum golden momentnya Sidrotul Muntaha. Terlalu kompleks peristiwa sedahsyat itu untuk dichek and recheck, one by one dengan metodologi ilmiah paling presisi sekalipun. Sebab itu merupakan wilayah kehendek Tuhan yang tidak mungkin bisa kita pahami. Yang seharusnya kita lakukan adalah mentadabburi malam transedental itu untuk kita temukan kontekstualitasnya ke dalam kehidupan kita.

Dari yang tersurat dulu, dimana diinformasikan bahwa Rasulullah di isra’ kan oleh Allah dari Mekah ke Masjid Al-Aqsho bersama Malaikat Jibril. Cak Nun pernah memaparkan tentang kata isra’ yang bermakna diperjalankan ini. Beliau mengatakan bahwa jika kita mengetahui ayat tersebut, maka kita akan bisa mengetahui keutamaan melakukan apapun dalam hidup ini berdasarkan konsep diperjalankan Tuhan. Dengan demikian kita tidak akan banyak berprasangka terhadap diri kita dan dunia. Sebab kita tahu bahwa kita selalu dalam koridor diperjalankan Tuhan.

Lalu mengapa kata isra’ disambungkan dengan kata lailan, pada suatu malam. Cak Nun juga pernah menjelaskannya dengan berpendapat bahwa hidup ini malam. Gelap (peteng). Oleh sebab itu kita pasti butuh cahaya. Dan untuk mendapatkan penerang itu bisa dari apa saja yang diberitakan oleh Allah.

“Yâ man asro bikal muhaiminu lailan nilta mâ nilta wal-anâmu niyâm”

Sementara itu pada peristiwa mi’rajnya Kanjeng Nabi, juga akan kita temukan sebuah momentum yang sentimentil. Yaitu ketika Rasulullah berjumpa dengan Sang Kekasih di Sidrotul Muntaha, Beliau mengucapkan salam, “Attahiyatul mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah”; “Segala penghormatan, kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah saja”. Allah SWT pun berfirman, “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh.” Demikian ‘adzimnya pertemuan itu hingga kemudian salam itu diabadikan dalam bacaan tahiyat sholat.

Lantas bagaimana konteksnya dengan kehidupan kita. Rasulullah pernah bersabda, “Assholatu mi’rajul mukminin,” Sholat itu mi’rajnya orang-orang beriman. Maka barangkali dalam konteks hidup ini seyogyanya kita bisa menggunakan sholat sebagai media kita bertemu Allah. Menyapa Allah. Agar kita juga mendapatkan rahmat dan keselamatan hidup dunia akherat. Maka jika sudah demikian kita tidak punya ruang lagi untuk tidak bersyukur atas dialektika kita kepada Tuhan dalam setiap perjalanan hidup yang diperjalankan Tuhan tadi.

Simbah sering menyampaikan, “Du’a yang ditujukan kepada Allah itu konteksnya menyapa,” Dengan sering menyapa Allah, kita pun akan semakin dekat dengan kelayakan untuk diberi. Sehingga kita tidak akan terjebak untuk mengatur-atur Allah sesuai kehendak nafsu kita.

Sedang dalam ranah Sholawat kita kenal sebuah Sholawat yang begitu indah mengisahkan diperjalankannya Rasulullah di malam 27 Rajab itu. Dari catatan sejarah, tertulis sholawat Tarhim ini direkam di Lokananta Solo dan dipopulerkan di Indonesia untuk pertama kalinya melalui Radio Yasmara ( Yayasan Masjid Rahmat ), Surabaya pada akhir tahun 1960′an. Sholawat yang populer di desa-desa di pinggiran kota di Jawa Timur ini, merupakan syair karya Syaikh Mahmud Al Husairi. Sedangkan audio / kaset yang biasa diputar di masjid-masjid biasanya dilantunankan oleh Syaikh Abdul Azis dari Mesir. berikut beberapa bait syair yang mengisahkan diperjalankannya Rasulullah SAW:

Ash-sholâtu was-salâmu ‘alâik
Yâ man asro bikal muhaiminu lailan nilta mâ nilta wal-anâmu niyâm
” Sholawat dan salam kepada engkau
duhai yang memperjalankanmu dimalam hari, Dialah Yang Maha Melindungi, engkau memperoleh apa yang kau peroleh sementara manusia tidur ”
Wa taqoddamta lish-sholâti fashollâ kullu man fis-samâ’i wa antal imâm
Wa ilal muntahâ rufi’ta karîman (2 x)
Wa sami’tan nidâ’an ‘alaykas salâm
“ Semua penghuni langit sholat dibelakangmu dan engkau menjadi Imam,
engkau diberangkatkan ke sidrotul Muntahaa karena kemulyaanmu,
dan engkau mendengar ucapan salam atas engkau “

Syaikh Mahmud Al Husairi adalah ulama lulusan Universitas Al-Azhar yang digelari Syaikh al-Maqori’ ( Gurunya para ahli qiro’ah ). Beliau juga menjabat sebagai ketua Jam’iyatul Qurro’ di Kairo, Mesir.

Selain sebagai monumen diperintahkannya sholat, disebutkan bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah hiburan bagi Rasulullah atas berbagai penderitaan yang ditanggungnya selama menegakkan kalimat Allah. Sehingga Allah memberi hadiah berupa pertemuan yang agung itu. Maka wajib bagi kita mentadabburi itu semua, bahwa ketika Allah memberi banyak aral dan penderitaan dalam setiap perjalanan hidup kita, siapa tahu sesungguhnya hiburan Allah juga menyertai kita dibelakangnya.

“Sebab kita-kita ini tidak bisa diandalkan di hadapan Allah. Maka cukuplah kita terus berupaya gondelan klambine kanjeng Nabi dengan Sholawat.”

Emha Ainun Nadjib

Sementara dalam kesempatan yang sama, dimana Kanjeng Nabi diperlihatkan keindahan surga yang belum terbersit dalam pikiran, belum pernah terdengar di telinga juga belum pernah terlihat oleh pandangan, kita juga dapat mengambil konteks lain. Misal saja, kita bisa dengan mulai mencari kebaikan dalam setiap apapun yang kita temui. Agar kita juga akan mendapatkan keindahan-keindahan yang barangkali belum sempat kita fikirkan sebelumnya, belum kita dengar sebelumnya, juga belum kita lihat sebelumnya.

Sedang pada konteks Rasullulah diperlihatkan neraka, kita dapat merefleksikannya dengan menjauhi keburukan-keburukan yang kita temui dalam diri kita sendiri maupun dari luar kita. Mudah-mudahan kita senantiasa diberikan hidayah untuk memperbaiki diri. Dalam perjalanan kita yang sejenak ini. Dalam koridor diperjalankan Tuhan yang muaranya menuju kepada Allah. Biarlah bahwa hari ini ada upaya penghancuran Masjid Al-Aqsha dengan menyembunyikan aslinya. Sebab mereka tidak akan dapat menghancurkan Islam dari wilayah apapun. Mereka tetap tidak akan dapt melenyapkan sejarah yang telah tertulis di lauhul mahfudz.

Simbah pernah berpesan, “Upomo uripmu sial, gak enak. Trimoo! Ikhlaso! Sing penting sampeyan ga diuring-uring Gusti Allah dan tetep dicintai Kanjeng Nabi. Kepingino dadi makmume Kanjeng Nabi, Mbuh pas opo ngalamine, itu cita-cita yang luar biasa. Sebab kita-kita ini tidak bisa diandalkan di hadapan Allah. Maka cukuplah kita terus berupaya gondelan klambine kanjeng Nabi dengan Sholawat.” Dan menjadi makmumnya Rasulullah adalah anugerah yang tak terbayarkan oleh apapun. Sampai-sampai para Anbiya dan para Malaikat pun menjadi makmumnya Rasulullah ketika hendak naik ke Sidrotul Muntaha. Maka seyogyanya kita berbenah terus menerus dalam mencari dan menemukan kebaikan. Agar saat bertemu Rasulullah kelak, alih-alih mendapat salam. Jangan-jangan kita malah mempermalukan beliau. Naudzubillahi min dzalik.

Salam Maiyah (W. Esbe)

 

Tulisan Terkait