Kempong, empeng atau dot biasanya digunakan oleh bayi-bayi usia lebih dari sebulan sampai 1 atau bahkan 2 tahun. Itu pun menurut banyak pihak masih kontroversial baik buruk penggunaannya, sebab si bayi juga tidak mendapatkan asupan gizi apa-apa (hanya angin). Empeng seringkali digunakan untuk mengelabuhi bayi yang menangis dan minta susu kepada Sang Ibu. Bayi adalah fase tahapan manusia setelah dilahirkan, masih belum mengerti beda antara keinginan dengan kebutuhan. Cak Nun pernah mengupas bahwa bayi ditemani staf-stafnya Tuhan untuk menunjukkan kepada Ibunya apa yang ia butuhkan, tapi si bayi itu sendiri tidak mengerti bahwa itu kebutuhan. Sekarang ini sampai dewasa manusia tidak belajar membedakan antara keinginan dengan kebutuhan. Rancangan pembangunan, kreasi kebudayaan dan teknologi, hampir seluruh sisi peradaban ummat manusia di abad ini, menunjukkan sangat jelas ketidakmengertian pelaku-pelakunya bahwa yang mereka bangun dengan gegap-gempita itu bukan kebutuhan, melainkan keinginan.

Kembali pada kempong, dalam bahasa Jawa Ngoko (wilayah perbatasan Magelang Jogja) terdapat susunan kata yang sering digunakan seperti “kowe kok gelem to dikempongi (Kamu kok mau (diapusi) dibohongi?)”. darisana menunjukkan sebuah peristiwa ketika orang kok mau-maunya dibodohi oleh temannya atau orang lain. Atas alasan apakah? Mungkin karena ke-kurangtahuannya? Mungkin karena kemalasannya berfikir bahkan lebih jauhnya malas menganalisis?

Rupanya gejala Kempongisasi ini terbawa secara tidak sadar (ketidaksadaran kolektif) oleh si Bayi. Bahwa umur bertambah itu jelas, namun apakah orang dengan umur yang lebih banyak menjamin kedewasaan dari orang itu pula? Apakah si bayi kemudian “sadar” dalam menjalani hari-harinya? Sadar posisinya? Sadar tugas kehidupannya untuk apa hadir di dunia?

Cak Nun pernah menekankan dalam suatu kesempatan bahwa orang yang menjalani hidup di jalan keinginan, cukup berbekal nafsu, ditambah sedikit ilmu yang kompatibel dengan nafsunya itu. Tapi orang yang melakoni kehidupan mencari yang ia butuhkan, bekal yang ia perlukan sejak awal adalah ilmu. Yang berlangsung sekarang ini adalah peradaban bayi-bayi. Bayi tidak bisa disalahkan, meskipun ia membanting gelas, melempar Ibunya dengan piring, atau bahkan membakar rumah. Bayi tidak percaya, atau tepatnya, belum paham, ketika dikasih tahu bahwa yang ia lakukan adalah perusakan dan penghancuran. Salah satu jenis kelemahan manusia adalah kecenderungan terlalu gampang percaya atau terlalu mudah tidak percaya. Masih mending kalau mau mengkritik. Kalau ompong ndak punya gigi, harus makan makanan yang tidak perlu dikunyah. Kalau orang punya gigi, dia bisa menjalankan saran dokter: kalau makan kunyahlah 33 kali baru ditelan. Sekedar makanan, harus dikunyah sampai sekian banyak kali agar usus tidak terancam dan badan jadi sehat. Lha kok tulisan, ilmu, informasi, wacana – maunya langsung ditelan sekali jadi.

Sop Buntut

Akhir-akhir ini marak kembali akun-akun oknum di media sosial yang menelan mentah-mentah sebuah quote tentang Cak Nun tanpa bertabayyun, pun dengan menjamurnya akun youtube yang mengupload, memotong suatu acara maiyahan untuk kepentingan tertentu dan diberi judul yang sangat berseberangan dengan konteks yang dimaksudkan, akibatnya dapat menimbulkan bias dan lepas konteks, misalnya potongan yang dihadirkan untuk mengadudomba atau memversuskan pendapat Cak Nun dengan pendapat orang lain. Akhirnya orang dengan sangat mudah menanam iri, dengki, orang dengan sangat mudah mencaci maki. Ketika ada suatu informasi baru orang dengan teramat mudah terombang-ambing prasangka-prasangka tanpa terlebih dahulu memelajari dengan seksama apa penyebab yang melatarbelakangi dari sesuatu itu muncul.  

Dalam peringatan meninggalnya Bapak Agung Waskito (Sutradara Pementasan Lautan Jilbab), Cak Nun pernah menjelaskan mengenai mangga dan pelok. “Kalau dalam sastra, ada yang disebut strukturalisme. Yaitu kalau Anda membaca karya sastra, Anda tidak akan mendapatkan apa-apa dari sastra itu, kalau tidak dengan mempelajari penulisnya. Maka kemudian banyak pengamat atau kritikus sastra yang mengarahkan perhatian untuk mempelajari riwayat penulisnya. Jika Anda makan buah, Anda harus menyatu dengan daun, batang, akar, tanah, dan lain-lainnya yang menjadi milieu bagi lahirnya buah itu. Begitupula yang hendak digapai Maiyah adalah tauhid dengan Allah, dan tidak mungkin Anda bertauhid tanpa menyatu dengan bulatan sejarah umat manusia dan bulatan alam semesta itu sendiri.” Menurut Cak Nun, selama ini orang sudah disuguhi mangga yang sudah teriris dan tinggal dimakan melalui berbagai bentuk-bentuk siap makan, tetapi perlu saat-saat lain dimana orang harus belajar dari sejarah, menilik sebuah perjuangan, bukan sekadar siap menikmati hidup dan yang sudah disuguhkan saja.

“Coba Anda pandang Indonesia yang ruwet ini. Wong kalau Anda mengunyahnya sampai seribu kalipun belum tentu Anda bisa paham. Segala ilmu sosial, ilmu politik, ilmu ekonomi dan kebudayaan mandeg dihadang keruwetan Indonesia. Ilmuwan-ilmuwan kelas satu saja kebingungan membaca Indonesia, lha kok Anda ingin mengenyam makanan tanpa mengunyah. Kebudayaan kita instan. Mie-nya instan. Lagunya instan. Maunya masuk sorga juga instan. Kalau bisa, dapat uang banyak langsung, ndak usah kerja ndak apa-apa. Kalau perlu ndak usah ada Indonesia ndak apa-apa, ndak usah ada Nabi dan Tuhan juga ndak apa-apa, asal saya punya duit banyak. Sedangkan Kitab Suci perlu kita baca terus menerus sepanjang hidup, itupun belum tentu memperoleh ilmu dan hikmah. Wong kita tiap hari shalat lima waktu rajin khusyuk sampai bathuk benthet saja belum tentu menemukan kebenaran. Wong naik haji sampai sepuluh kali saja belum dijamin akan memperoleh ridhollah. Lha kok sekali baca ingin mendapat kedalaman nilai, lha kok lagu-lagu pop diharapkan menawarkan kualitas hidup, lha kok menyanyikah shalawat dianggap sama dengan bershalawat atau melakukan shalawat. Baca koran juga dengan metodologi kempong. Generasi kempong tidak punya waktu dan tidak memiliki tradisi untuk tahu beda antara kalimat sindiran dengan bukan sindiran. Tak tahu apa itu ironi, sarkasme, sanepan, istidraj. Tidak ada etos kerja, “Tegas Cak Nun.  

Cyber War

Pada Mocopat Syafaat edisi Oktober 2016, Cak Nun menyampaikan satu bangunan view. Bahwa yang dimanipulasi dari Maiyah itu katakanlah kurang dari sepuluh persen. Di atas lima persen, dan mungkin itu bisa dikatakan banyak. Cak Nun mengatakan bahwa sebenarnya tingkat bahaya omongan Beliau bisa seratus kali lipat dari yang terjadi. Mengapa? Sebab Maiyah itu adalah indahnya persahabatan dan kebersamaan. Yang pertama-tama dirasakan di Maiyah bukan ilmu kata-kata tetapi peristiwa kemurnian, ketulusan, penerimaan, keluasan, kemesraan, dan lain-lain. Di dalam Maiyah jamaah dilatih untuk membangun keseimbangan hidup. Latihan keseimbangan inilah yang dalam jangka panjang akan menyelamatkan kita. Karena kualitas yang demikian itu, maka orang yang hanya mendengar atau tidak hadir hanya mendapatkan kata-kata. Ia tidak bisa mendapatkan kemesraan dan nuansa yang berlangsung dengan baik. Nuansa itulah yang tak bisa dibawa ke media sosial maupun media lainnya. “Kalau Anda melakukan hal-hal yang setia dan berupaya mencapai keakuratan, itu merupakan kemurahan hati Anda, sebab Anda berjuang untuk taat kepada kebenaran yang Anda yakini, ”Papar Cak Nun.

Persis pada poin itulah, dalam hubungannya dengan manipulasi atau mutilasi atas penjelasan-penjelasan Beliau selama ini di berbagai Maiyahan, Cak Nun mengungkapkan bagaimana cara Beliau berlindung atas situasi seperti itu. Yaitu berlindung kepada hukum Allah Swt. La-in syakartum la-azidannakum wala-in kafartum inna adzabi lasyadid. Dan menurut Beliau masih banyak ayat-ayat lain dari Al-Quran yang menjelaskan rumus kesetiaan. Saya ingin katakan kepada Anda, kepada siapa saya berlindung. Jawabnya: Kepada hukum Allah. La-in syakartum la-azidannakum wala-in kafartum inna adzabi lasyadid. Kalau Anda setia dan bersyukur, Allah akan menambahi nikmat itu. Tetapi jika Anda kufur, sesungguhnya adzab Allah sangat pedih.

Tersebab Revolusi Industri keempat, Teknologi Digital sesungguhnya memiliki dampak negatif yang mengancam Bangsa dan Ummat jauh melebihi apa yang sering diskusikan, bahkan melampaui tingkat yang pernah dibayangkan. “Bangsa kalian sedang benar-benar dihancurkan, dan alat utama penghancuran itu adalah Bangsa kalian sendiri. Ummat kalian sedang sungguh-sungguh dirusak, dan alat utama perusakan itu adalah Ummat kalian sendiri. Hari ini kadar kehancuran dan kerusakan yang dicapai adalah bahwa Bangsa dan Ummat kalian tidak menyadari bahwa mereka sedang dihancurkan dan dirusak. Bangsa dan Ummat kalian hanya punya waktu beberapa tahun untuk mulai menyadari itu, ”Terang Cak Nun terkait perkembangan Teknologi Informasi hari ini.

Mulianya manusia karena anugrah akal pada otak dengan milyaran sel di dalamnya yang kemudian digunakan untuk berfikir, menyelami apa-apa keterjadian di dunia ini. Pun lewat teknologi yang tenar hari ini, beragam media sosial yang ‘mak bedunduk, ujug-ujug’ seolah-olah ajaib, turun dari langit dan kemudian secara serakah kita menggunakannya sesuka hati, tanpa menyadari, menganalisis, mengfungsikan akal apa dan bagaimana kegunaan yang seharusnya dari media sosial? Apakah benar-benar menjadi media sosial penghubung kebaikan antar manusia atau malah cenderung berubah menjadi media antisosial? Mari kita bertanya kembali kepada diri kita saja.

Nafisatul Wakhidah

Hessen, Germany, 30 Oktober 2016