Minggu ke dua di bulan September di Hari Selasa masih saja tak ada yang ingin melewatkanya. Tentang Wirid dan Sholawat yang akan selalu dipanjatkan kepada Allah swt juga Kanjeng Nabi Muhammad saw. Genap ke-40 Selasan yang rutin diadakan oleh Jamaah Maneges Qudroh terlaksana. Seperti kata genap dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang berarti utuh atau tidak kurang.

Begitupun yang menggambarkan Wirid dan Sholawat malam itu, 8 September 2020 yang dilaksanakan di kediaman mas Aris Surya di Dusun Sadegan, Tempuran. Terlihat utuh atau tidak kurang oleh penuhnya jamaah MQ. Satu persatu memenuhi kediaman mas Aris, bukan hanya jamaah rutinan, juga para pemuda Sadegan turut serta memenuhi undangan tuan rumah. Semua berbaur, obrolan hangat terlihat bersautuan dengan rekaman sholawat dari sound-system sembari menikmati kudapan yang sudah disediakan.

Waktu menunjukan pukul 21.30, Mas Taufik selaku pemandu acara memulai dengan membaca hamdalah bersama para dulur karena rasa syukur masih dapat bermunajat bersama. Selanjutnya ada kabar bahagia dan duka. Seperti halnya ada genap pasti ada ganjil. Begitulah kehidupan ini ada kematian juga ada kelahiran. Meski pun semua merasakan keutuhan dalam Selasan untuk segera memanjatkan wirid dan sholawat. Tentu Jamaah Maiyah di seluruh Nusantara dan Dunia sedang berduka. Senin, 7 September 2020 Ibunda tercinta Mamak Cammana berpulang keharibaan Allah swt.

Sebelum memulai bermunajat, bersama membaca Surat Al-Fatihah teruntuk bunda kita semua. Dengan segenap kerinduan wirid usai dilantunkan.

Malam semakin larut, kesunyian diluar rumah pun mulai terasa. meski demikian, para jamaah masih ingin bersama untuk lebih berbicara akrab. Salah satunya mendengarkan cerita dulur MQ yang berkesempatan bertemu dengan Bunda Cammana di Tanah Mandar, kampung halamananya. Seperti perempuan yang keibuan, Bunda tidak terlalu banyak berkata, namun bagi Jamaah Maiyah dirinya sangat di hormati dan dihargai. Tak heran jika semua masyarakat maiyah merasakan kehilangan.

Memungkasi munajat wirid dan sholawat juga diskusi malam itu teringat kembali Daur yang dituliskan oleh Mbah Nun:

“Karena Pencipta semua ini sendiri adalah Sang Maha Ganjil. Satu. Tunggal. Ahad. Tetapi ganjilnya Ahad adalah segenap-genapnya kegenapan. Allah itu Maha Ganjil karena Maha Genap. Allah itu Maha Genap maka terasa ganjil pada terbatasnya penglihatan dan penghayatan manusia. Sudahlah, pokoknya selalu teguhkan โ€˜Qul Huwallahu Ahadโ€ฆโ€ (Al-Ikhlas: 1)”-Daur II-130.

Sadegan, 8 September 2020