“Eling lan Waspodo” Memesrai Waktu

Acara rutinan bulanan pada kesempatan kali ini nampak sedikit berbeda. Situasi di Omah Maneges sudah ramai ketika acara sudah dimulai. Entah karena ini merupakan acara pertama di awal tahun yang secara tidak langsung menumbuhkan semangat baru bagi penggiat ataupun jamaah, atau mungkin karena ada faktor internal di antara penggiat yang memiliki strategi baru dalam mempersiapkan acara. Tidak menutup kemungkinan juga faktor-faktor lain yang menyatukan cinta para peserta di jalan yang sama untuk saling mengobati kerinduan akan kebersamaan.

Ya, acara rutinan maiyah memang sedikit berbeda dibandingkan acara-acara lain yang lebih agamis ataupun teologis. Tidak ada syarat apapun untuk dapat hadir ke acara maiyah. Pun tidak ada aktor utama yang diulamakan dalam acara maiyah karena semua berposisi sama. Sinau bareng untuk menemukan apa yang dianggap benar dan bergembira bersama serta menghilangkan kecemasan yang selalu saja mengepung kehidupan kita. Kalau masalah ilmu biar itu menjadi hidayah yang bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh untuk dibagikan kepada yang lain.

Acara rutinan Maneges Qudroh ini sudah memasuki edisi ke-95, kali ini dengan tema “Unfollow”. Sebuah kata yang mungkin tidak asing bagi para pencandu media sosial ini adalah suatu sikap untuk tidak mengikuti kembali apa yang selama ini selalu muncul dalam beranda kehidupannya. Dan menjadikan kita

secara tidak sadar terjangkit kecemasan. Sebuah pemikiran yang jernih lambat laun berubah menjadi cinta buta pada zaman dimana rasa panas hati sangat mudah sekali tersulut di dalam kepungan modernisasi teknologi. Dan di kesempatan ini pula, Mas Islamiyanto (Kiai Kanjeng), Bapak Setia Aji Awaluddin (Pengusaha Air Minum), dan tamu tuna netra dari Borobudur diharapkan akan membeberkan sikap unfollow di zaman now ini.

Di awal acara, Mas Aji Kojjek sebagai koordinator Sub-Region 6 (Maneges Qudroh, Mocopat Syafaat, Suluk Surakartan, Jabalakat, Maiyah Kahuripan, Saba Maiyah, dan Manunggal Syafaat) menceritakan sedikit tentang Silatnas awal Desember 2018. Sebuah acara silaturrahmi nasional dari berbagai simpul maiyah di Indonesia berkumpul di Surabaya pada waktu itu. Dalam Maiyah, Jamaah berbeda dengan Penggiat. Jamaah hanya datang di saat seluruh kebutuhan acara telah selesai dipersiapkan oleh para penggiat. Di saat di maiyah tidak ada struktural formal seperti di organisasi pada umumnya. Di maiyah, semua dapat menyalurkan potensi tanpa ada batasan. Siapa saja bisa ikut, misalnya “nggelar kloso atau ngasahi” seperti yang biasa dilakukan oleh para penggiat. Yang semua dilakukan hanya bermodalkan keikhlasan, tanpa ada reward apapun, termasuk pujian. Tidak ada sama sekali. Dalam kesempatan ini, Mas Kojjek hanya menekankan 3 step yang harus ada di setiap simpul. Pertama manajerial; kedua pemetaan potensi; dan yang ketiga adalah saling sambang antar simpul terutama di lingkup Sub-Region 6 ini.

Berikutnya, jamaah dihibur oleh tamu tuna netra dari Borobudur. Pak Thaifur yang kesehariannya bekerja sebagai ahli massage di Dinas Kesehatan Kab. Magelang secara ajaib mampu memainkan keyboard, didampingi Mba Ayu, murid di SLB Ma’arif yang pernah ikut lomba menyanyi tingkat nasional

di Bangka Belitung dan Mas Fuad yang menjadi guru di SLB tersebut. Lagu ‘Tombo Ati’ menjadi nomor pertama yang disuguhkan yang sedikit menambah suasana keharuan pada malam itu. Walaupun di nomor berikutnya, haru tersebut seketika diubah menjadi kegembiraan karena sajian ‘Banyu Langit’-nya yang mendadak membuat para jamaah mesti ngempet goyangannya. Dan mungkin hanya di Maiyah yang dapat menampung spektrum ilmu yang sangat beragam. Tidak monoton untuk selalu doktrinisasi dalam lajur agama saja. Layaknya Pak Thaifur yang tiba-tiba menyeloteh, “yang hadir pada malam hari ini tidak hanya manusia, tapi juga makhluk halus pun turut hadir.” Sontak para jamaah pun tertawa. Pak Thaifur yang tuna netra ini pun melanjutkan kalimatnya, “bagaimana tidak? Anda semua bisa melihat saya, sedang saya tak bisa melihat anda semua.”

Setelah hiburan tersebut, Mas Islamiyanto mulai ‘mbeber kloso’ dengan mengajukan pertanyaan ke para jamaah,”milih dadi wong pinter atau wong bener?”. Karena menurut Mas Is, simbah-simbah pendahulu kita selalu mengajarkan kita hal tersebut. Seperti yang terangkum dalam tembang berikut.

“Ora kabeh wong pinter iku bener

Ora kabeh wong bener iku pinter

Akeh wong pinter nanging ora bener

Akeh wong bener nadyan ora pinter

Timbang dadi wong pinter nanging ora bener

Becik dadi wong bener nadyan ora pinter

Syukur dadi wong bener lan ugo pinter”.

Tembang dari simbah-smbah pendahulu yang dinyayikan Mas Is tersebut sedikit menjelaskan tentang perlunya ketegasan sikap untuk tidak mengejar kepintaran saja. Lebih utama menemukan kebenaran terlebih dahulu walaupun banyak yang menganggap hal tersebut adalah suatu kebodohan di zaman sekarang.

Lalu Mas Is melanjutkan dengan menceritakan tentang ilmu pertama yang diajarkan oleh Mbah Nun. Beliau sendiri sudah membersamai Simbah selama 21 tahun atau dari tahun ’98. Ilmu yang diajarkan pertama oleh Simbah adalah tentang kemuliaan di depan Allah SWT. “Nggawe becik opo wae ojo pisan-pisan mengharapkan pujian dari manusia.” terang Mas Is.Ibarat sebuah gelas isi kopi, kita hanyamemikirkan tentang kenikmatan kopi tersebut tanpa pernah memikirkan siapa yang membuatnya. Begitu pun segala kenikmatan yang terjadi pada kehidupan kita. Kita selalu menghargai apa yang nampak dari kenikmatan tersebut, tanpa pernah mencari tau darimana kenikmatan itu berasal.

doc: manegesqudroh

Dalam serat centini, yang dijelaskan oleh Bapak Setia Aji, ada 3 hal utama yang terkandung di dalamnya yang bisa dijadikan pijakan utama untuk dapat bersikap tegas atau unfollow terhadap keadaan dunia. Yang suasana kehidupan sosialnya sedang keruh oleh persoalan dan permasalahan. Ketiga hal tersebut adalah ngurangi kesenengan, ngurangi maem, lan ngurangi turu. Bapak Setia Aji sudah terbiasa hanya tidur 2 jam setiap hari, yang kebetulan sama dengan Mas Is. Dan Mbah Nun menurut Mas Is jam tidurnya hanya di kisaran setengah jam, atau maksimal 1 jam setiap hari. Dan Rasulullah SAW dalam suatu kitab waktu tidurnya hanya 5 menit. Kualitas tidur menjadi hal yang sangat bertolak belakang dengan zaman sekarang. Orang hebat bisa tidur hanya 5 menit dengan kualitas tidur yang sama dengan 8 jam. Tapi, orang sekarang walaupun tidurnya 8 jam, kualitasnya tak lebih sama dengan tidur 5 menit. Karena masih ngantuk dengan waktu tidur yang begitu lama. Dan Mas Is menambahkan masalah sakit apa tidak itu ‘tergantung’ keikhlasan, kedisiplinan terhadap waktu, dan kecintaan terhadap hamba-Nya.

Dan yang paling penting adalah bagaimana kita menghargai waktu. Bagaimana kita bisa disiplin terhadap waktu. Mbah Nun adalah sosok yang sangat disiplin terhadap waktu. Jika beliau ada acara jam 9, sekitar jam setengah 9 beliau pasti sudah berada di tempat. Beda dengan kebiasaan sekarang yang janjian kumpul jam 9, ya baru datang jam 11 atau jam 10 paling cepat. Pak Setia Aji menjelaskan tentang kondisi menunggu yang biasanya hanya akan membuat hati panas agar bisa diubah menjadi hal yang lebih positif. Dengan tidak menyalahkan siapapun yang biasa dengan sikap keterlambatannya.

Dalam sesi tanya jawab, Mas Rico dari Bantul mengajukan pertanyaan kepada Mas Is tentang bagaimana menangis dan tertawa dengan caranya Mbah Nun? Mas Islamiyanto langsung memberikan jawaban bagaimana Mbah Nun sendiri nonton menonton dunia ini wes gilo, sudah jijik. Mbah Nun sangat

merasa kasihan dengan orang-orang sekarang. Mbah Nun juga sangat mengetahui dan memahami kesenangan atau kegembiraaan mana yang hanya sesaat dan mana yang abadi. Simbah hanya tidak memandang segala sesuatu dengan menjadikannya seperti sebuah materi. Karena menrut Mas Is, Mbah nun sangat menerapkan sikap ‘eling lan waspodo’. “Walaupun tidak enaknya seperti apa, tapi kalau baik buat saya, ya tak makan!” ucap Mas Is menggambarkan bagaimana sikap Mbah Nun.

Unfollow sendiri adalah sebuah sikap. Disaat ada berita, itu benar atau hanya sekedar hoax/palsu. Kalau di kalangan anak muda sekarang seperti korban janji/status. Yang menjadikan hidup penuh dengan kecemasan. Hal ini sendiri bisa dilatih dengan lebih memaknai istighfar. Bersihkanlah hati yang pertama. Disaat arus informasi pasti masuk melalui pikiran lalu diolah ke dalam hati yang berakhir pada sikap. Kalau dari hati itu tidak bersih, informasi apapun yang masuk melalui pikiran pada akhirnya output yang keluar atau sikap yang ada hanya akan menularkan kecemasan yang menimpa diri sendiri kepada orang lain. Contoh nyatanya adalah menebar kebencian. Dimana banyak sekali yang terjerumus dalam lingkaran kebencian di tahun ambisi yang terbalut cantik dalam pesta rakyat. Lihat betapa banyak yang akhirnya stress sendiri memikirkan jagoannya.

Media sosial tak lebih dari ajang media pamer. Sebuah dolanan untuk saling berkompetisi menunjukkan image tentang dirinya. Disaat tujuan utamanya adalah untuk memudahkan bertukar informasi. Hampir setiap orang saat ini meiliki akun media sosial, yang justru pada akhirnya seperti sebuah penjara baginya. Kebebasan tidak terasa seperti biasanya karena kebiasaan kita untuk bermain di media sosial tersebut, dan pada akhirnya disaat ada kesempatan silaturrahmi secara langsung yang terjadi adalah komunikasi yang tidak normal. Karena waktu mereka terganggu oleh gadget masing-masing.

doc: manegesqudroh

Qana’ah setiap orang berbeda-beda, tidak bisa disamakan. Kalau kita berani tegas untuk tidakmengikuti yang menjerat ‘kebebasan’ kita, nanti pada akhirnya kita menjalani semuanya menjadi lebih ringan. Tapi kebebasan itu tidak bisa terus dipaksakan sama dengan kemauan kita, “rusak donyane”, sambung Mas Is. Karena hal tersebut akan mempengaruhi keseimbangan semesta. Kalau menurut Pak Setia Aji,”semakin celelekan suatu kaum, maka semakin kuat pula kaum tersebut dalam menghadapi masalah.” Surga didapat dengan melayani orang lain dengan penuh ikhlas dan kasih sayang. Sementara nekara akan terus mengikuti dengan terus melayani diri sendiri dengan ego dan nafsunya yang seringkali mengorbankan orang lain.

Tak terasa waktu sinau bareng ini telah melewati tengah malam. Segala ilmu terkemas dengan penuh kegembiraan dengan suguhan Kopi Entong. Sebuah merk Kopi baru yang diproduksi sendiri oleh para penggiat di Magelang. Kalau kata Mas Is, Entong sendiri adalah manusia yang penuh kemuliaan di hadapan Allah. Dengan etos kerjanya yang selalu mensupport para jamaah maiyah dengan kopinya yang terasa sangat khas. Karena hampir di setiap acara sinau bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng, Mas Entong juga selalu menjajakkan kopinya disana.

doc: manegesqudroh

Mas Kojjek menyampaikan pesean di akhir acara jika kita jangan hanya kebelakang, karena itu akan menjadi suatu tendensi yang pada akhirnya hanya memberatkan. Pun kita hanya terlalu banyak melihat kedepan, karena masa depan adalah sesuatu yang masih ghaib dan hanya akan menimbulkan kekhawatiran akan hari esok. Kita hidup pada keadaan sekarang di rentang waktu yang terus berjalan. Jangan terlalu bergantung kepada dunia. Kuncinya bukan terletak pada yang kelihatan, tapi pada hati. Kalau Mbah Nun sering berpesan faidza faraghta fanshob, wa illa rabbika farghob. Jika telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmu lah engkau berharap. “Karena kita hidup sejatinya hanya membuat cerita, tinggal tergantung cerita seperti apa yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita.” pungkas Mas Islamiyanto.

Acara pun diakhiri dengan melantunkan bersama-sama Dzikir Munajat Maiyah yang dipimpin langsung oleh Mas Is. Suara beliau yang khas menjadi hikmat tersendiri dalam pengungkapan rasa cinta kepada Allah dan kekasih-Nya pada malam ini. Dipungkasi dengan Mahaluul Qiyam sambil bersama-sama berdiri menegaskan cinta ataupun rindu kepada Sang Pencipta Kehidupan. Saling memberikan salam dan berpelukan semakin menambah kemesraan di akhir acara tersebut.

Sabtu, 5 Januari 2019

Omah Maneges, Muntilan, Magelang