Semua dengan keilmuannya berlomba-lomba memberantas bahkan melawan sesuatu yang tak kasat mata. Sanggupkah kita memiliki kekuatan tanpa kekuatan itu sendiri yang telah dititipkan?

Semua sibuk membuat kesimpulan atas kebenaran-kebenaran yang dimilikinya baik pribadi ataupun golongan, padahal belum tentu benar-benar memahami. Lantas, bisakah sekali saja kita kembali berpikir siapa yang memberi kita peran sedemikian rupa sehingga kita mendapat amanah dan kepercayaan dari lingkungan sekitar untuk melakukan sesuatu?

Semua sibuk mencari-cari celah untuk meloloskan diri dari jerat pandemi, namun andaikata itu adalah rahmat, bisakah sekali saja kita mencoba untuk bermesraan dengannya?

Sedari Tajuk “Pilihan 3 Daur” yang menawarkan opsi perubahan seperti apa yang diinginkan, kami meresponnya dengan memilih revolusi spiritual. Dengan pelaku utama atas kadar ikhtiar maiyah, sudahkah kita membayar ongkos maksimalitas taqwa, sabar, serta tawakkal? Lalu melakukan tarekat totalitas dalamkekhusyukan massal dengan konsistensi amaliyah kultural untuk mencapai makrifat Allah Qahirun ‘Ala ibadiHi?

 Terlebih dengan asupan-asupan ilmu hakikat yang selalu tersaji di berbagai acara sinau bareng selama ini, bisakah kita bersama-sama melantunkan sapaan-sapaan itu bersama-sama dengan keadaan yang seperti ini? Disaat berkumpul menjadi sebuah larangan. Tentu ini menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk menegaskan cinta dalam shaf yang telah mengumpulkan kita semua dalam jalan cinta yang sama.

Wirid dan shalawat menjadi benteng pertahanan diri yang paling mujarab dalam perubahan yang diinginkan. Bahkan bukan tidak mungkin wirid dan shalawat merupakan imunitas diri yang ampuh terhadap segala bentuk cuaca. Terlebih jika segala kejadian berhulu pada frasa “La haula wa quwwata illa billahil-‘aliyyil ‘adhim”, bisakah wirid dan shalawat menjadi landasan ataupun bekal diri untuk menjadi man of the all season?

Dalam syair lagu Mbah Nun pun disampaikan bahwa masalah yang datang sesungguhnya bukan berasal dari luar diri kita, melainkan masalah itu datang dari cara berpikir ataupun cara pandang diri kita sendiri yang salah menafsirkan keadaan yang sedang terjadi. Pada akhirnya semua akan tergantung diri dalam pencarian peran Tuhan dalam segala keadaan. Layaknya sebuah kalimat yang banyak dijadikan landasan dalam ilmu tassawuf, “Man ‘Arofa Nafsahu faqod ‘Arofa Rabbahu

Dhepe-dhepe dalam khasanah jawa sering diartikan sebagai mengiba-iba untuk meminta atau selalu mendekat agar diberi. Dengan keadaan seperi ini, manusia seharusnya lebih dhepe-dhepe kepada pencipta-Nya melalui wirid dan shalawat. Mungkin wirid dan shalawat bisa menjadi gerbang menuju peradaban baru melalui laku-laku spiritual yang konsisten atau istiqamah. Dan bisa jadi keadaan yang menggemparkan dunia ini merupakan ujian keimanan ketika menginginkan sebuah perubahan yang sesungguhnya memuliakan bagi manusia yang mampu menahan diri dengan sabar.

Dalam rutinan edisi ke-111, kami hanya akan dhepe-dhepe melalui wirid dan shalawat yang akan disiarkan secara langsung melalui akun media sosial Maneges Qudroh. Karena tanpa sanad keilmuan dan posisi kualitatif ilmiah, hanya wirid dan shalawat yang bisa kami lakukan untuk meminta tolong agar selalu diberikan “keselamatan”. Monggo yang ingin merapatkan shaf untuk berjamaah memohon kemudahan dan keselamatan bersama, bisa membersamai langsung siaran nanti malam pukul 21.00 WIB.