Lagi-lagi hujan tercurah banyak membawa keberkahan di waktu Selasan, yang datang dengan beberapa pilihan kemungkinan atau hanya tersisa satu kepastian. Di antara pilihan kemungkinan tersebut diantaranya mereka yang diamankan untuk tetap di rumah masing-masing atau mereka yang tetap diperjalankan menuju tempat Selasan, disertai titipan kekuatan untuk memesrai guyuran hujan. Sekalipun kesungguhan itu sering disangka sebuah militansi atau laku keistiqomahan.

Selain banyak kemungkinan-kemungkinan lainnya, nampak terselip satu kepastian rasa, bahwa tetap adanya dulur-dulur yang terpanggil untuk melakukan wirid dan sholawat Munajat Maiyah secara kolektif di dalam satu rumah yang sama. Hal ini sempat dikonfirmasi setelah acara wirid selesai, terkait apa yang menyebabkan mereka untuk tetap melakukan upaya mendatangi acara, karena wirid Munajat Maiyah atau ada yang lainnya? Bagaimana kalau wirid Munajat dihilangkan, akankah dulur-dulur akan tetap datang ke Selasan?

Kesimpulan jawaban yang didapat jelas bahwa yang menarik minat untuk tetap melakukan upaya ke Selasan tidak lain karena wirid dan sholawatnya. Meskipun sering disangka wujud keistiqomahan atau militansi secara permukaan karena dapat tetap terlaksana di rentang waktu mingguan. Akan tetapi tak menutup kemungkinan pula, bahwa Selasan ini merupakan salah satu ajibah yang diijinkan untuk tetap di-“ada”-kan.

Secara permukaan, mungkin Selasan tak lebih hanya sebuah aktivitas kegiatan wirid pada umumnya yang berada dalam organisasi atau perkumpulan lainnya. Hanya saja, Selasan ini masuk dalam bingkai atau frame Maneges Qudroh. Dan secara isi atau makna dari kegiatan wirid sholawat yang dilakukan, adakah hal-hal yang lebih utama selain hanya untuk dhepe-dhepe terhadap Gusti Allah dan Kanjeng Nabi? Adakah tuntutan atas kehadiran atau merasa tersandera dalam ketidakhadiran?

Dilantunkannya sholawat “Alfa Salam” malam itu merupakan satu kebaruan selama rentang 57 putaran karena sebelumnya belum pernah sama sekali dibawakan dalam Selasan. Beribu salam disampaikan atau mungkin tersampaikan kepada kekasih Allah yang mulia, melalui rintihan ataupun teriakan mesra yang terlantun dalam syair-syair pemujaan. Dengan terus membasahi lisan dalam rangka terus mengingat pencipta, maka Selasan diharapkan mampu mendatangkan ketentraman untuk terus kembali menyapa di putaran berikutnya.

Dulur-dulur Selasan seolah tidak mau saling menjauh atau mungkin yang terjadi sekarang diberikan keterjagaan jarak untuk tidak menjauh. Bahkan, kehadiran sholawat “Alfa Salam” pada putaran kali ini pun seolah menjadi jawaban yang tersirat atas pertanyaan-pertanyaan yang terlalu lama mengendap. Seperti misalnya pada bait berikut:

Ana Abdukum Ya ‘Uhailal Wafaa
Wa Fiqurbikum Marhami Wa Syifaa

Aku adalah pembantu-pembantumu wahai orang-orang yang mulia
Dekat denganmu adalah obat dan kesembuhan bagiku
Fala Tusqimuuni Bikullil Jafaa
Wamunnu Biwashli Walau Fil Manan
Maka janganlah kau sakiti aku dengan berjauhan dariku
Dekatkanlah aku denganmu walau hanya dalam mimpiku

Kita takut jika kita dijauhkan dengan Allah, Kanjeng Nabi, orang-orang mulia, atau siapapun. Lantas, kita memiliki harapan agar kita tidak mendapati masalah dengan jarak yang sangat mungkin tercipta di kemudian hari. Selasan pun akhirnya menjadi obat atau penawar akan ketidaknyamanan, keresahan, ataupun ketidaktentraman atas masalah kehidupan yang dirasa semakin mengusik. Menjadi kesembuhan dengan syarat diri kita menyatakan dengan kerendah-hatian bahwa diri ini sedang sakit. Asalkan yang dilihat adalah isinya, bukan kemasan luarnya. Yang dipikirkan makna kegiatannya, bukan agenda waktu kegiatannya.

Segala nuansa di banyak cuaca sudah banyak menjadi pengalaman atas kemesraan yang disiratkan oleh semesta hingga putaran ke-58 Selasan kali ini, yang alhamdulillah dipersatukan di kediaman Mas Mukti (Entong) di Dusun Pletukan, Tempuran, Kab. Magelang. Manifestasi wajah-wajah yang diperlihatkan seolah banyak menampakkan bukti atas kebersamaan-Nya yang terwakilkan. Hingga akhirnya kita benar-benar bisa merasa, bahwa tiada satu tendensi apapun atas pertemuan yang terjadi kecuali hanya karena satu cinta yang sama.

Dusun Pletukan, 12 Januari 2021