Semalam, kami ber-Selasan di Yasaum (Yayasan Satu Umat), yang sedianya akan digunakan sebagai acara Milad #9tahunMQ nanti malam sekaligus gladi resik persiapan acara tahunan ini. Yasaum sendiri merupakan yayasan yang diasuh oleh Pak Habib, salah seorang tokoh yang pada mulanya turut membersamai perjalanan Maneges Qudroh.

Setelah beberapa kali Selasan ini berjalan hingga semalam mencapai edisi ke-8, ternyata bukan faktor tempat yang mempengaruhi kenikmatan melantunkan wirid. Bukan pula seberapa banyak kehadiran jamaah yang turut serta dalam kegiatan wirid. Kenikmatan itu terasa tatkala para jamaah dapat memasuki gelombang frekuensi yang sama, dalam hal ini tentu saja tentang bagaimana mengungkapkan rasa rindu atau cintanya.

Kita bisa seksama memperhatikan, bagaimana para pejalan ini seolah mampu menciptakan sebuah ruang khusus tanpa terikat oleh wujud tempat. Mampu menggubah suasana lelah hingga seketika terasa mendapatkan recharge spesial untuk menggantikan tenaga dan waktu yang telah sedia diluangkan oleh jamaah. Sangat tidak mungkin, jika niat keberangkatan awal benar-benar tulus ingin menyatakan kasih kepda-Nya, pulang mendapatkan balasan lara, misalnya. Kalaupun memang hanya lara yang mampu dimaknai, itu hanyalah salah satu bilik nikmat yang kita belum mampu memasukinya.

Sembari memejamkan mata, mereka mencoba mencari kedalam dirinya cahaya-cahaya yang bersembunyi di balik apa yang selama ini disangka ‘mungkin’ pancaran dirinya. “Marhabban Yaa Nurul Aini! (Selamat datang, Wahai Cahaya Mataku)!” Ya, nampak mata itu terbangun disaat mata-mata itu mereka pejamkan.

Peluh demi peluh mulai teruai, disaat bersamaan otot-otot tenggorokan saling menunjukkan taji kelantangannya. Suasana macam apa ini?

Panti YASAUM, 4 Februari 2020