Kebuntuan seringkali menemui setiap orang mulai lingkup terkecil diri, keluarga bahkan sampai ranah bernegara. Dari kebuntuan membuat tema, kebuntuan menghadapi masalah ekonomi, sosial, politik dan berbagai hal kehidupan lainnya. Maiyah Maneges Qudroh Magelang mengangkat tema Buntu pada kesempatan 7 November 2015 kali ini.

Dipandu oleh Pak Eko, Jamaah berduyun-duyun menghadiri forum, spesial pula hadir dua orang tamu berkewarganegaraan Jepang turut menyimak dengan seksama. Bertempat di desa Jumbleng Tamanagung Muntilan, Mas Harianto mengawali dengan tema besar Maiyahan bulan ini yakni Indonesia bagian dari Maiyah. Seperti yang kerap disampaikan Mas Sabrang, dalam melihat suatu hal setiap kita memiliki jarak pandang, sudut pandang dan cara pandang yang berbeda sehingga hal tersebut memiliki porsi besar dalam menilai atau menghadapi sesuatu. Mas Harianto mengisahkan di samping rumahnya, dekat Kebun Binatang Gembira Loka ada 5 Gajah yang memang sedari kecil sudah dirantai dan dibisiki kata-kata oleh pawangnya bahwa Sang Gajah tidak akan pernah bisa lepas dari belenggu rantai tersebut sampai kapanpun, dan kemudian tertanam sedari si Gajah kecil sampai dewasa dia berkeyakinan bahwa ia tak akan pernah lepas dari rantai tersebut. Buntulah kesadaran, kebebasan berpikir dan identitas Sang Gajah. Gajah pula tak lain mengejawantahkan Negara Besar Indonesia.

Begitu pula sejatinya kita dalam memandang kebuntuan dalam kehidupan. Apakah buntu merupakan sebuah akhir? Dan Apakah buntu adalah sesuatu hal di dalam diri kita ataukah dia merupakan peranti yang berasal dari luar diri kita? Mas Harianto pun menjelaskan bahwa jika perintah itu berasal dari Tuhan maka tidak ada perintah yang tidak difasilitasi dan hanya perintah Tuhan-lah yang bisa mengatasi kebuntuan kita.

Setelah penampilan dari grup musik Jodo Kemil, Pak Amron memulai dengan kata-kata yang dinyanyikan oleh grup tersebut. Hati-hati dengan hatimu, menurut beliau yang didapat dari berbagai sumber hati itu terdiri dari 3 ranah. Pertama Sadr, yakni perasaan yang masih liar, salah satu contohnya ketika orang marah. Kedua, Qalb yaitu hati yang menuntun pada saat-saat merenung, mencari solusi, mempertanyakan, mencoba menyelaraskan akal dengan hati. Dan tingkat yang lebih tinggi, Fuad, dia ibarat akses langsung, orang Jawa kadang menyebutnya dengan ilham, inspirasi, dan darinya lahirlah beragam produk-produk di dunia.

Pak Amron yang juga merupakan guru Fisika SMA 1 Muntilan mencontohkan bahwa berbagai penemuan seperti pesawat berangkat dari hukum Archimedes. Begitu pula dengan penemuan lampu oleh Thomas Alva Edison. Edison pun mengalami kebuntuan dalam mencoba bereksperimen dalam hal tersebut. Sampai 99 kali gagal dan kemudian pada titik percobaan yang ke 100 dia baru berhasil menemukan lampu. Maka dapat disimpulkan kebuntuan yang dialaminya sejatinya juga merupakan sebuah pintu. Jika Edison memilih berhenti pada kebuntuan eksperimen ke 99 mungkin bisa jadi sampai sekarang belum dtemukanlan sebuah Lampu. Dan semua keberhasilan yang luar biasa itu pintunya adalah kebuntuan, kegagalan. Dari kebuntuan lahirlah kemudian  pencerahan.

Seorang jamaah juga mengungkapkan, Buntu itu akan dimaknai menjadi sesuatu yang positif atau negatif? Karena buntu adalah kondisi yang harus dihadapi untuk bisa difase berikutnya. Dengan contoh kalau buntu terus berhenti maka dia tak akan bisa meraih tujuannya. Buntu ibarat ketika ada keinginan kemudian masalah yang berat datang, dapat diartikan pula suatu keadaan putus asa. Namun, bagi orang yang memiliki jiwa spiritual tinggi, buntu itu tidak ada. Karena ia dapat membalikkan keadaan yang ada. Akan menjadi buntu ketika dia tidak mau mengurai masalah yang ada di sekitarnya. Dan Orang Islam diwajibkan untuk mencari ilmu agar dapat mengurai kebuntuan-kebuntuan yang ada. Sebab, kebodohanlah yang mempersempit hidup kita serta kalau kita punya ilmu, dapat pula kita merekayasa sosial diri atau sekitar kita.

Terus Berjalan

Menurut Pak Amron ketika berada di titik nadir bernama buntu, maka pasrahlah. dan Tuhan membukakan Fuad-nya setelah Sadr dan Qalb tidak bisa diajak berpikir optimis. Karena dalam hati ada ketajaman, dan yang dekat dengan Fuad, yang akan banyak menemukan hikmah-hikmah, serta solusi. Seperti dalam episode ibadah Haji, ketika orang sudah berusaha, bekerja bisa diibaratkan orang yang sedangSa’i, lakukan saja walau kita tak pernah tau akan hasilnya, teruslah berjalan. Thowaf, lakukan sesuatu dengan rutin, istiqomah saja pekerjaan apapun. Tapi setelah semua usaha yang belum berujung maka ada saatnya juga kita harus wukuf, berdiam karena kehidupan dunia kita itu nggak ada apa-apanya. kita  harus selalu dzikir atau online sama Allah. Harus selalu siap pulsa untuk mendapat akses dari Allah, pulsa berupa bacaan Basmalah, dzikir, atau berbagai laku kehidupan lainnya.

Pak Amron juga menceritakan kisah Rasulullah saat beliau diludahi oleh seorang tunanetra. Namun, Kanjeng Nabi memilih untuk tidak maaf dan memaafkan orang tersebut karena Kanjeng Nabi melihat bahwa yang terjadi tersebut merupakan qudroh dan irodah Allah. Sebab dari Sang Maha Sebab. Maka marilah memaknai segala hal dengan tenang dan memaafkan. Bayangkan bagaimana penderitaan Kanjeng Nabi, yang sudah diperlihatkan gambaran surga dan neraka. Kita juah lebih mudah karena tinggal menapaki jalannya, mengikuti beliau. Semua Rasul Allah yang ada adalah kepedihan. Namun, kepedihan-kepedihan itu menjadi sebentuk kecil ketika yang dipandang adalah Allah yang Maha Besar. Saat kita ditolak Allah, ingatlah sejatinya kita sedang diberi dan ketika kebuntuan terjadi, sesungguhnya Allah hanya tinggal satu jarak lagi untuk memberikan pencerahannya.

Mas Harianto turut menguraikan manusia dianugrahi Aql, yang dalam bahasa Arab salah satu artinya adalah alat, pengait hati dan otak. Orang modern menganggap bahwa solusi berhubungan dengan hasil, padahal tidak. Solusi dan hasilitu berjalan sendiri. Namun, ketika suatu saat mereka bertemu itu namanya takdir Tuhan. Kita selalu meletakkan Tuhan di akhir, ketika beban terlalu berat dan ketika terdapat keraguan akan hasil. Maka dalam setiap niatan, kita berusaha atau bekerja harus dimulai, bersama dan muara akhirnya adalah Allah. Sebab, Profesionalitas bukan tentang memperoleh profit yang banyak seperti persepsi mayoritas meyakininya. Namun, berakar dari akar kata prophet yaitu sebagai tugas kenabian.

Kalau dulu orang kurang informasi dianggap kurang pinter. Sekarang ketika informasi membanjiri di berbagai sudut kehidupan, orang yang kurang pinter adalah orang yang kebanyakan informasi. Karena sesungguhnya filter dari segala informasi yang ada sekarang adalah diri sendiri. Bagaimana kemudian informasi tersebut berguna untuk diri, keluarga atau bahkan lebih luas lagi.

Diilustrasikan oleh Mas Harianto seperti orang melempar korek ke  arah utara. Maka ada  berapa variabel penentu korek tersebut sampai?Gangguan alam, arah angin ga bisa dikendalikan, tenaga, otot, pikiran. Banyak sekali faktor alam yang tidak dapat kita kendalikan. Oleh karenanya solusi dari kerja keras diri sendiri saja tidak cukup atau teori sukses dari usaha pribadi sangat tidak cukup yang membuat sesorang berhasil. Karena lebih besar faktor X-nya, faktor diluar kendali manusia.

Rumus pertama mayoritas berpendapat bahwa siapapun yang bekerja keras, beribadah, beramal maka akan kaya jika minimal menjalani salah satu darinya. Namun, tetangga Mas Harianto pula tidak bekerja keras, tidak rajin beribadah dan beramal dan bisa kaya. Dari sana terlihat bahwa untuk berhasil itu kuncinya tidak dari usaha manusia saja. Ikhtiar memiliki dua ujung, satu lini diridhoi/disetujui Tuhan atau yang lain kemudian dimurkai/dimarahi Tuhan. Terkait hasil ada yang kemudian orang menjadi bersyukur dan adapula yang kufur. Hasil yang sesuai dengan harapan dan tidak sesuai dengan harapan. Maka, ikhtiar dan solusi hubungannya diridhoi atau tidak.

Ketika orang terlalu menganggap bahwa hasil yang didapatnya karena usaha keras pribadi ujungnya adalah ketika orang tersebut gagal, ia akan putus asa, menyalahkan Tuhan bahkan bisa sampai bunuh diri. Contoh lain dalam sepak bola, Messi bisanya menendang, namun persoalan gol atau tidak, itu urusanNya. Hasil itu mutlak kehendak Tuhan. Yang wajib dan harus kita lakukan yakni bekerja karena itu terkait dengan derajat dan martabat kita sebagai manusia yang dikaruniai akal, tugas kekholifahan.

Pak Ihda pula menambahkan bahwa berbeda antara bekerja yang kemudian mendapatkan profit dan usaha. Menurut manusia ‘modern‘ hasil sering dipersepsikan dalam sebentuk uang, kekayaan dan materi lainnya. Padahal dalam  Islam yang disuruh adalah berusaha. Dan konsep rezeki bukan melulu tentang uang dan harta lainnya, bisa jadi dalam bentuk paseduluran, nilai-nilai kehidupan atau bahkan teruslah kita menanam dan kita ambil hasilnya di akhirat nanti. Karena hasil adalah urusannya Gusti Allah. Buntu adalah kondsi menghakimi diri kita sendiri, Kalau beriman maka akan aman. Orang masih hidup selalu punya harapan, sekecil apapun itu. Seperti slogan yang pernah digaungkan di Pesantren Gontor; Berani hidup, Berani mati, Takut mati jangan hidup, Takut hidup mati saja.

Terus Menanam

Suatu ketika ada burung kecil yang ingin turut membantu mengambil air ketika Nabi Ibrahim dibakar. Ia mencoba membawa air dari sungai, lalu terbang, dan diatas api yang membakar Nabi Ibrahim dilepaskan air tersebut. Dan burung-burung besar yang lain malh tertawa mengejek. “Kapan kamu bisa menyelamatkan Nabi kalau kamu itu hanya kecil? Dijawablah oleh burung tersebut, “Aku juga nggak yakin bisa memadamkan api itu, saya hanya ingin bahwa nanti ketika saya dihadapan Allah, Allah itu mencatat saya bagian kecil yang sangat kecil dari Takdir Allah untuk menyelamatkan Ibrahim, saya hanya ingin bagian kecil dari itu.“

Dari cerita tersebut Pak Amron mengajak, marilah kita mencontoh burung-burung kecil tersebut, lakukan yang terbaik. Muntilan itu ya meng sak eprete indonesia, bahkan dunia. Namun, tetap lakukan kebaikan sekecil apapun itu. Karena yang kecil itu mungkin bisa berdampak besar suatu hari, yang penting keiistiqomahan dan ketawakalannya. Yang paling tepat lagi, segala ikhtiar, upaya kita semua itu dalam rangka mewujudkan kehambaan kita pada Allah swt. Jangan sampai yang hari-hari ini sholat Istisqo mengaku-naku, ini lho berkat doa saya sehingga hujan. Padahal  tidak sadar dia Istisqo-nya sudah masuk musim penghujan, kalau mau berspekulasi ya mungkin agak ‘wajar’ kalau yang sholatnya sejak bulan September. Dan Pak Amron mengajarkan kepada anaknya bahwa sholat ini tidak sekadar karena minta hujan tapi menjalankan sunnah Rasulullah, mau dikasih atau tidak sudah ada saatnya sendiri nanti. Tetapi jangan sampai jika suatu saat nanti kita ditanya, “Mana amal-amalmu? Wong kamu sudah ku undang buat sholat Istisqo aja kamu nggak mau? Dijawab, lho mana diundang? Lha kuwi ra tak kei udan suwe kuwi? Itu kan undangan untuk kita sholat Istisqo.

Bagi teman-teman apapun profesinya, lakukan saja, itu sebagai bentuk penghambaan kita pada Allah, hasilnya biar Allah sendiri yang menentukan. Saya tertarik dengan kisah cicak. Cicak itu makanannya nyamuk, lha nyamuk itu kan mabur to? Ini neg nganggo logika Gusti Allah ki blas ra nggunakke logika. Wong cicak itu ra iso mabur, kok pakanane itu mabur gitu lho? Coba kalau nyamuk itu pakai logika. Wong ra nyedak e ra ke pangan kok. Tapi takdir Allah itu lain. Dia tetep nyedak mbuh piye carane. Tetep nyedak, dan itu memberikan kehidupan agar tetap seimbang. Akhirnya, ada nyamuk yang mengorbankan diri untuk dimakan cicak. Untung tidak ada hisab untuk nyamuk. Juga dalam dunia teknologi kita mengenal software u-buntu, mungkin karena pencinptanya sudah pada titik buntu dan kemudian malah bisa menciptakan software baru dan dalam Islam sesungguhnya ada tataran syariat, hakikat, tarikat, makrifat. Setiap orang maqomnya berbeda. Jangan mencoba-mencoba menentukan posisi kekholifahan kita pungkas Pak Amron.

Sedari awal Maiyah mengajarkan akan ketawadhuan dan kepasrahan tinggi atas kehendak Allah berikhtiar untuk ikut menetralisir racun-racun kehidupan. Dan semampunya men-shodaqoh-kan pemikiran dan karya untuk membuka jalan-jalan buntu yang ada. Pesan Cak Nun pula, Manages Qudroh setia bertanam dengan memurnikan diri dan (sekaligus berarti) mentawakalkan hal panen kepada Allah. Artinya Maiyah rendah hati memahami batas khilafahnya, selebihnya “Innnalloha wa malaikatihi, yaf’alu ma yurid“.

Fakta masa depan adalah gabungan dinamis antara tanam Maiyah dengan “ma yurid-nya“ Allah beserta para stafs/malaikah. Karena Maiyah tidak bekerja sendirian. Ia berjalan fi maiyatillah wa malaikatahu. Di tengah kesetiaannya (Cak Fuad; Ad-Dinu an-Nashihah) anytime standby siaga menjalankan intruksi/ amr-ullah. Sebab Panen bukan hanya bermakna dan berposisi konsumsi, ia juga sebagai pekerjaan berat dan panjang. Pula Pak Asclachudin menambahkan Kewajiban mahluk memang sekadar menanam. Hasil menjadi wilayah otoritas Tuhan. Petani berusaha menanam sebaik-baiknya. Merawat dengan penuh cinta. Tetapi bahwa tikus yang memanennya itu sudah menjadi urusan Tuhan.

Nafisatul Wakhidah