Prolog : Kala itu, Rasulullah berkata kepada sahabat-sahabatnya tentang bagaimana keadaan umat Islam setelah beliau wafat. Kata Rasulullah, “Sebentar lagi, akan berkumpul para umat-umat selain Islam untuk merobohkan kalian semua. Layaknya orang-orang yang makan di dalam sebuah wadah”. Lantas, salah seorang sahabat bertanya, “Apakah jumlah kami saat itu sedikit Ya Rasul?”. Rasul Menjawab, “Justru saat itu, jumlah kalian banyak. Akan tetap kalian bagaikan buih yang ada dalam banjir. Dan Allah akan menghilangkan dari musuh kalian rasa takut kepada kalian. Dan allah memberikan kelemahan ke dalam hati kalian”. Salah seorang sahabat kembali bertanya, “Apa saja kelemahan itu ya Rasul?”. Maka Rasulullah pun menjawab “ Cinta kepada dunia dan takut akan mati”. *)

***

Dari sepenggal kisah diatas, rasanya baru saja beberapa hari ini Rasulullah berkata seperti itu. Rasanya Rasulullah masih tadi pagi. Karena, sangat kita sadari bahwa keadaan yang digambarkan dalam kisah tersebut sangatlah persis dengan keadaan umat Islam saat ini, tak terkecuali di Indonesia sendiri. Jika mau memandang out of the box tentang skala permasalahan dan resiko eskalasinya. Satu pandangan simpulan yang bisa ditarik adalah, umat Islam saat ini sedang menjadi sebuah obyek praktek-praktek keji, baik secara fisik maupun non fisik, demi tercapainya kepentingan-kepentingan penjahat dunia yang sedang menguasai berbagai sistem di dunia ini.

Prediksi tentang pengibaratan umat islam menjadi buih setelah wafatnya Rasulullah tersebut sebenarnya sudah berlangsung sejak lama, setidaknya yang cukup bisa terlihat adalah ketika masa pemerintahan khalifah Utsman bin Affan RA. Beliau yang sangat lembut, pemurah dan pemalu ini justru dimanfaatkan oleh beberapa golongan yang tidak menyukai Utsman untuk menjatuhkan kekhalifahan Utsman, yang pada akhirnya berujung pada pembunuhan Utsman di rumahnya sendiri.

Pasca Utsman, menantu sekaligus keponakan Rasulullah Ali bin Abi Thalib RA, yang menggantikan Utsman juga menghadapi situasi politis yang tak jauh beda. Yang pada akhirnya justru menimbulkan chaos pertama antar umat muslim yaitu perang jamal. Tak lama kemudian terjadilah perang shiffin. Pada masa Ali ini juga timbul perbedaan ideologi antar umat Islam, yang melahirkan kelompok khawarij, kelompok syiah, dan kelompok Ahlussunnah wal Jamaah.

Entah efek berkepanjangan, atau memang ini adalah sebuah akibat yang baru sama sekali. Yang jelas saat ini situasi umat Islam di seluruh dunia sudah semakin nyata menjadi buih. Ancaman ancaman subservif terhadap keberadaan umat Islam semakin hari sudah semakin tidak terperi. Secara fisik bisa kita lihat bagaimana sebuah “kisah klasik” Palestina dan Israel yang sampai hari ini tak kunjung selesai. Secara non fisik, bisa kita lihat dari segi budaya, pola pikir, mental, dan lain-lain. Secara umum, perusakan non fisik tersebut adalah menggunakan media seperti televisi, radio, koran dan Ditambah saat ini sudah berkembang pesat sekali tentang akun sosial seseorang di situs-situs tertentu otomatis mempengaruhi tentang budaya dan tentu saja di pola pikir rakyat itu sendri.

Tak bisa dipungkiri, dan memang benar benar fakta bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk yang mayoritas memeluk agama Islam. Namun, ibarat pepatah “Lain lubuk, lain pula ikannya”. Umat islam Indonesia mempunyai nilai plus daripada umat Islam dari bangsa lain. Umat Islam Indonesia sudah mempunyai paham-paham dan prinsip-prinsip kehidupan yang sangat baik. Bagaimanapun, jauh sebelum Islam datang ke Indonesia, Indonesia atau Nusantara, pernah menjadi sebuah bangsa yang sangat kuat dan tangguh.

Mengaca dari peristiwa penjajahan fisik yang terjadi di indonesia selama beratus-ratus tahun, agaknya para penjajah kurang berani untuk menguasai Indonesia dengan chaos fisik seperti yang terjadi dulu.  Maka penguasaan melalui budaya, pola pikir dan sistem di segala sisi kehidupan, serta penguasaan potensi potensi kekayaan alam Indonesia dijadikan langkah jitu untuk menaklukkan bangsa Indonesia. Bagaimana menjajah namun yang dijajah tidak merasa sedang dijajah. Dan, alhasil. Saat ini sudah sedemikian lamanya beberapa perusahaan asing bercokol di Indonesia dengan ayem. Megaproyek-megaproyek digelontorkan untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya dari Indonesia. Meski memang bukan sesuatu yang dilarang, tentang penanaman modal asing (PMA) di Indonesia. Namun, efek nyata yang dirasakan oleh sebagian besar rakyat Indonesia sudah bukan lagi sekedar PMA yang diatur undang-undang. Namun sudah menjadi PMA yang bermakna Perampok -dan- Mafia Asing, yang malah bukannya diatur undang-undang, namun malah mengatur undang-undang.

Selain penguasaan kekayaan alam, saat ini Indonesia benar-benar dijajah paradigma dan persepsi dalam hal agama dan budaya. Hadits Rasulullah tentang perbedaan adalah rahmat, serta jargon Bhineka tunggal ika seakan sudah tak “laku” lagi di masa sekarang. Saat ini begitu mudahnya masyarakat tersulut isu isu sentimen agama, sentimen suku dan budaya, dan sebagainya. Media yang seharusnya menjadi informasi netral bagi masyarakat luas, nyatanya hari ini justru menjadi salah satu penyulut atas isu isu tersebut. Terlebih dalam urusan berita, bad news is a good news, frase ini bukan sekedar wacana. Masyarakat kita hari ini sudah terbiasa dengan hal tersebut, masyarakat kita akan lebih menikmati berita berita tentang gosip selebritis, berita tentang penjatuhan nama baik sebuah lembaga atau personal sendiri. Sehingga semakin menguatkan alasan masyarakat untuk membenci atau setidaknya rerasan tentang keadaan lembaga atau personal tersebut.

Daur 72 yang berjudul “Agamaterialisme”, Cak Nun memberikan gambaran terhadap kemerosotan tentang mental umat beragama, utamanya Islam sendiri. Dekadensi yang terjadi di level nasional maupun internasional adalah tentang wolak waliking jaman yang mana di daur tersebut Cak Nun menyebutkan “”bebendhu tan kasat mata, pepeteng kang malih rupa””. Agamaterialisme. Tampak seperti Agama, padahal materialisme. Tidak terasa materialisme, karena wajahnya Agama”. Manusia lebih rela kehilangan martabatnya sebagai manusia asal mempunyai harta yang banyak, mampu menghidupi keluarganya tanpa menghiraukan koridor halalan thoyiiban. Serta, sudah tak percaya lagi dengan Allah yang mempunyai janji memberikan segala sesuatu yang baik min haitsu laa yahtasib.

Materialisme, memang menjadi sebuah tantangan kehidupan yang harus dihadapi. Bagaimanapun paham yang meyakini bahwa kebendaan (materi) adalah segalanya, yang berimbas pada harta, uang, kekayaan adalah segalanya ini sudah berjalan sedemikian lama dan sangat terstruktur rapi, sehingga banyak sekali manusia, bahkan banyak yang sudah berlabel “Tokoh Agama” pun, tidak sadar bahwa diri mereka adalah seorang yang menganut faham materalis praktis. Meski memang, patut kita sadari pula bahwa saat ini memang kita tidak bisa lepas dari materi, bagaimanapun juga, kita masih hidup di dunia, alam materi. Namun akan menjadi fatal jika tidak diimbangi dengan kesadaran Innallaha yarzuqu man yasyaa bighoiri hisaab. Sehingga prediksi tentang kelemahan manusia menjadi benar adanya, yaitu cinta dunia dan takut mati.

Dengan mempertimbangkan kondisi di atas, yang juga nyata-nyata sudah menjangkiti di hampir kebanyakan pribadi umat Islam. Maka perlunya kesadaran untuk bergerak untuk berkumpul menjadi Ummatan Wahidah. Tentunya kesadaran ini haruslah dimotori oleh para sesepuh, para tokoh, para Ulama yang masih “suci” dari hal-hal tersebut. Ummatan Wahidah bisa bermakna “sebenar-benarnya umat yang bersatu” (dalam bahasa arab, disebut dengan mashdar li-taukidi). Lantas, siapakah sebenar-benarnya umat? Dan yang bersatu itu yang bagaimana?. Kalau boleh sedikit urun rembuk, maka yang harus bersatu adalah umat Islam, tanpa memandang perbedaan paham fiqhiyyah, tanpa memandang dia berjidat gosong atau tidak, tanpa memandang celananya cingkrang atau kedodoran. Mengapa harus Islam? Karena sejarah membuktikan bahwa Islam-lah yang mampu mengayomi kerukunan perbedaan tanpa memandang apapun agamanya. Lakum diinukum waliya diin. Pula, mampu bersatu tidak atas kebencian terhadap seseorang atau sesesuatu. Namun karena iman, karena cinta, utamanya cinta kepada Allah dan Rasulullah.

Akhir akhir ini, Umat Islam di Indonesia sedang santer dengan isu sentimen agama berkaitan dengan Al maidah 51. Berujung pada aksi 4 November 2016 (yang kemudian dikabarkan akan ada aksi susulan 2 Desember 2016), dimana ratusan umat Islam dari berbagai golongan berkumpul di Jakarta untuk menuntut penangkapan Gubernur Jakarta dengan tuduhan penistaan agama. Dengan tanpa mengurangi apresiasi terhadap langkah nyata yang dilakukan oleh sejumlah orang Islam waktu itu, ada hal yang sedikit menggelitik juga. Kenapa ratusan umat Islam itu bersatu ketika timbul rasa benci terhadap seseorang? Oke, kalau memang dibenturkan pada kasusnya, bukan pada orangnya. Kasusnya adalah yang diomongkan oleh si Gubernur tadi dianggap penistaan agama, penistaan Al-Qur’an. Apa sebatas itu saja yang dianggap sebagai kasus penistaan Agama dan Al-Qur’an? Bagaimana dengan pejabat-pejabat yang diambil sumpahnya di bawah Al-Qur’an, namun pada prakteknya justru mencari keuntungan pribadi sebanyak-banyaknya?

Dengan kahanan yang seperti ini. Maka, kalau boleh menyebutkan, Maiyah adalah sebuah prototype tentang wacana Ummatan Wahidah tadi. Meski jangan lantas maiyah dianggap sebagai firqoh baru dalam Islam. Nama “Maiyah” hanya tawaran narasi untuk sebuah definisi tentang kebersamaan demi kebaikan bersama. Karena di maiyah kita bisa merdeka untuk duduk melingkar bersama, membicarakan hal apapun secara bersama-sama. Saling urun rembug tanpa tendensi apapun kecuali demi kebaikan bersama dan dasar cinta kepada Allah dan Rasulullah tanpa melihat apa latar belakang dari masing-masing person yang hadir. Maiyah, mengajarkan tentang bagaimana cara menanam dan merawat “pohon-pohon” kebaikan di setiap jengkal “tanah” kehidupan, tanpa harus memikirkan apa timbal baliknya, bagaimana hasil panennya. Karena Maiyah meyakini “faman ya’mal mitsqoola dzarrotin khoiron yaroohu”

Semoga, kemerosotan akhlak, kemorosotan mental, harga diri dan martabat bangsa, bisa teratasi. Dengan modal sedikit demi sedikit dari hasil sinau kita dalam menanam dan merawat pohon-pohon kebaikan di ladang kehidupan kita. Sehingga, kisah negeri Saba’ akan terulang di negeri kita ini. Yaitu sebuah negeri yang memiliki pilar baldatun, thoyyibatun, wa robbun ghofuur.

***

Epilog: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan berikanlah rezeki kepada penduduknya dari (berbagai macam) buah-buahan, (yaitu penduduknya) yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. (QS. Al Baqarah 126)

Blitar, 27 November 2016

Muhammad Khumaidi

*) Catatan : Kisah ini diangkat dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ahmad. Penulis mengambil dari kitab “’Aunul Ma’bud ‘alaa Syarkhi Sunan Abi Daud” Terbitan Darul Ibn Hazim, Beirut, 2005. Juz 2 Hal. 1966 hadits no. 4297