BILIK Tangga Surga

Syahdan suatu waktu ada tiga manusia yang sedang ribut di hadapan pintu surga. Mereka rupanya sedang berebut untuk masuk surga terlebih dahulu. Mereka merasa lebih pasti punya hak yang istimewa di hadapan Allah.
Mengetahui hal tersebut Malaikat Jibril pun mendatangi untuk menjadi hakim pelerai dari perselisihan orang tersebut.
“Ssst sudah jangan ribut, segala sesuatu itu bisa menjadi baik jika dihadapi dan diselesaikan dengan tenang” ujar Jibril.
Ketika semua sudah tenang, Jibril nemanggil satu persatu dari orang yang tadi berselisih.
“Kamu yang pakai baju tentara, sini dan siapakah kamu sehingga kamu ingin masuk surga lebih dulu? ” tanya Jibril.
“Saya adalah pahlawan yang gugur di saat perang. Kata orang saya mati syahid dan berhak untuk ke surga lebih dahulu.”
“Siapa yang mengajarkan seperti itu? ”
“Orang alim itu.” katanya sambil menunjuk seseorang yang dengan pakaian biasa tertunduk bersandar di pohon yang agak jauh di belakang mereka bertiga dan tak ikut bertikai.
Jibril mengangguk lalu dipanggillah orang kedua dengan pakaian putih bersih.
“Siapakah kamu dan amal apa yang sudah kau lakukan hingga kau merasa pasti masuk surga duluan?” tanya Jibril.
“Saya sudah dua kali naik haji, Jibril. Saya mengerjakan rukun rukun haji dengan baik dan sempurna. Kata orang saya termasuk haji yang mabrur.”
“Siapa yang memberitahumu?” tanya Jibril.
“Orang alim itu.” jawabnya sambil menunjuk orang itu.
Lalu dipanggillah seorang yang berpakaian paling necis.
“Kamu siapa dan mengapa merasa yakin jika berhak terlebih dahulu masuk surga?” kata Jibril.
“Saya adalah orang kaya yang terkenal dermawan. Kata orang alim itu orang kaya yang memberikan hartanya di jalan Allah dengan hasil kerja kerasnya akan masuk surga tanpa dihisab.” jawab orang tersebut sambil sekali lagi menunjuk orang yang sedang menunduk di bawah pohon itu.
Jibril pun memanggil orang alim itu.
“Benar kamu mengatakan hal itu?” tanya Jibril.
“Saya hanya menyampaikan apa yang saya tahu yang berasal dari Allah lewat Rasulullah, itu saja, tuan.” jawabnya sambil tetap dalam wajah tunduknya.
“Kalau begitu kamulah yang lebih berhak masuk surga lebih dahulu karena telah berbagi ilmu.” suruh Jibril.
“Ampun Tuan, tapi tanpa Allah memberikan pahlawan syahid saya tak mungkin bisa belajar dan mengajar dengan tenang, tanpa doa dari murid yang telah naik haji dan mabrur, saya tak dapat beribadah dengan leluasa jika tak ada yang rela menyumbangkan sebagian hartanya kepada panti asuhan, sekolah, dll.” tampiknya.
Jibril menggeleng “Tidak, jasa dan amalan itu belumlah cukup selama belum ada hiasan dari hati yang ikhlas dan pasrah. Kamu yang lebih berhak dulu.”
Orang alim itu menerima tawaran Jibril tetap dengan tunduknya sambil menggandeng tangan sang dermawan, pahlawan syahid dan sang pemilik haji mabrur.

Maneges Qudroh, 03.09.2016.

Tulisan Terkait