Berubah atau Punah

Setelah sekian waktu mengembara, Jannatul Maiyah Maneges Qudroh putaran ke 78 kali ini  sedang “kembali” lagi ke Omah Maneges sebagaimana sebelum-sebelumnya. Ada yang lebih spesial seperti biasanya. Lebih bergairah. Lebih syahdu dan bersemangat. Tampak dari hadirin yang datang lebih beragam dari biasanya.

Setelah diawali dengan bacaan tadarus oleh sedulur Fani dan dilanjutkan wirid dan tahlil oleh Virdhian, acara segera diisi oleh sedulur-sedulur Keroncong Omah Tumpuk yang digawangi Mas Sigit Sky Sufa. Dengan nomor-nomor keroncong khasnya, suasana pun menjadi lebih hidup dan cair seiring kedatangan jamaah yang kian bertambah.

Satu hal yang membuat diskusi putaran kali ini lebih gayeng dari biasanya karena banyaknya sedulur-sedulur komunitas lain yang turut berkontribusi dalam acara malam ini. Antara lain Sutradara Senja Merah di Magelang, Mas Gepeng Nugroho yang sedikit banyak memaparkan satu fragmen sejarah perjuangan rakyat Magelang tempo dulu, yaitu tragedi Tulung. Bersama Mas Munir Syalala, penyanyi dan musisi asli Magelang, sebuah kolaborasi yang apik disuguhkan dalam nuansa keroncong. Atmosfer Kemerdekaan menjadi semakin hidup malam ini.

Dan satu lagi, dalam kesempatan ini sebagai narasumber yang ditunggu tak lain adalah Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh, didampingi Bapak Drs. Amron Awaludin. Secara kebetulan beliau berdua memiliki latar belakang disiplin ilmu yang sama yaitu Fisika. Proses Tholabul ‘ilmi dengan tema Berubah atau punah putaran kali ini pun menjadi kian menarik.

Langsung menyinggung tema, Bapak Amron membuka diskusi dengan terminologi perubahan. Dimana berubah itu sesuatu yang pasti, hukumnya saja yang tetap. Sedang punah itu juga pasti akan terjadi, tetapi dalam tataran jasad. Mengutip kalimat Gus Dur, Bapak Amron menegaskan bahwa yang pasti di dunia ini adalah perubahan.

Sementara dari Semarang ada Mas Agus ‘Gugur Gunung’ yang ikut memberi pandangan tentang fenomena akhir zaman ini. Yaitu manusia akhir zaman ini lebih cenderung membawa diri pada perubahan yang bersifat jasadiyah ketimbang ruhiyah atau nilai-nilai. Manusia kini lebih memprioritaskan sandang, pangan, papan ketimbang hal-hal yang bersifat martabat.

Mas Sabrang menjelaskan konsep sederhana dari Berubah atau Punah, ibarat orang pulang membawa kunci banyak, maka ketika akan masuk rumah ternyata salah kunci, satu-satunya cara adalah ganti kunci. Apabila orang itu istiqomah pada kunci yang salah, maka disitu stagnan akan didapatkan, atau bisa dikatakan punah (tidak berubah –red). Dalam skala lebih dasar lagi Mas Sabrang menekankan bahwa apabila kita tidak mampu melihat peluang bahwa kita bisa salah, maka disitulah kita akan punah dan tidak akan beranjak kepada perubahan.

Pada sesi tanya jawab seorang hadirin -Mas Pandu- bertanya pada narasumber terkait bagaimana mendeteksi diri sebelum melakukan perubahan? Salah satu respon datang dari pak Amron, Ialah perlunya kawan, guru, yang kemudian dipararelkan dengan nilai-nilai yang telah ditentukan Tuhan.

 

Sedang Mas Agus merespon dengan terminologi umur, dimana umur tunggal merupakan usia ketika anak ingin menjadi pusat perhatian. Umur las-lasan (welas), umur yang sudah mulai mengasihi mahkluk dan sebagainya. Selanjutnya ada kur-kuran (ukur), ketika umur mulai mampu mengukur. Ditengahnya ada selawe (kemlawe). Dilanjutkan dengan telung puluh –puluhan- (mengeluh, luluh), Puluhan kedua (suluh, cahaya), hingga seket (sudah ngiket) dan sewidak (pidak/mancal naik ke langit).

Hingga waktu merambat  tengah malam, jamaah masih jenak dengan jalannya diskusi. Diselingi alunan keroncong Omah Tumpuk yang berpadu padan dengan syair syahdu  dari Munir Syalala semakin mencairkan rembug bareng malam ini.

Di akhir Mas Sabrang menambah paparan atas pengenalan diri. Salah satunya dapat melalui cakrawala dari Al Qur’an seperti pada ayat  ‘Wahai jiwa-jiwa yang tenang…‘ kita dapat membangun build system dalam pikiran kita. Sehingga kita akan mampu memiliki tolok ukur dalam mengambil sikap atas suatu masalah yang menimpa kita. Artinya apabila kita masih emosional dalam merespon sesuatu yang menimpa kita, kita dapat menelaah kembali sesuai build system yang  kita tentukan sendiri dalam pikiran kita. Gampangnya, semisal kita dikatakan orang lain pesek kita marah. Itu karena kita membangun ketentuan dalam bawah sadar kita bahwa pesek itu jelek. Bagaimana jika sebaliknya?

Terakhir sekali Mas Sabrang memberi wacana terkait Maiyah yang sedang dibangun saat ini bukanlah sebuah fotocopy dari sistem yang telah ada sebelumnya. Melainkan merupakan hipotesa baru yang mencoba menjadi jalan keluar baru atas pelajaran-pelajaran yang telah terjadi di masa lalu . apabila tidak berhasilpun, setidaknya telah meninggalkan sesuatu untuk generasi berikutnya agar lebih canggih lagi untuk menemukan sistem peradaban yang lebih baik.

Dipuncaki dengan nomor Sandaran Hati versi keroncong, Mas Sabrang berkolaborasi dengan indah dengan Omah Tumpuk. Hadirin tampak begitu terhibur. Sampai jumpa di lain kesempatan pada lungguh bareng, rembug bareng, entuk ngelmu, entuk sedulur.

Wahyu Esbe

Tulisan Terkait