Selalu ada yang spesial dari acara Milad. Kejutan-kejutan selalu hadir setiap tahunnya memberikan berbagai pengalaman menuju kedewasaan maupun keluasan Simpul itu sendiri.

Seperti acara milad kali ini, ibu-ibu pengajian berseragam datang menggunakan sebuah bus maupun kendaraan pribadi. Tentu ini sangat menggembirakan beberapa penggiat, setidaknya sebagian bersyukur. “Syukurlah, banyak wanita yang datang, sekalipun ibu-ibu. Jika usia berlaku sejalan dengan waktu, semoga tidak dalam kehadiran. Sehingga kedepan, lebih banyak yang lebih muda.” canda salah seorang penggiat.

Sudah dapat dipastikan jika yang mengungkapkan pernyataan seperti itu adalah seorang jomblowan. Sekilas terkesan kering dan tidak bermental. Akan tetapi, itulah salah satu kebahagiaan yang berawal dari hasrat yang tahu, memahami, atau mengenal batas. Begitu pula dengan angka sembilan yang menjadi simbol maksimal dalam urutan angka.

Jamaah yang hadir seperti angka-angka yang akan memasuki jumlah atau menyepakati bilangan jumlah tertentu. Bahkan simbol-simbol angka tidak bisa mewakili kompleksitas pemikiran jamaah yang hadir. Namun, disini kita mencoba untuk bersama-sama mengkaji, syukur-syukur bisa nyawiji atau menyatu supaya bisa meng-aji sebuah ilmu yang mampu diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari selesai acara sinau bareng ini selesai.

Salah satu cara menyepakati bilangan tertentu supaya dapat menyatu adalah dengan melantunkan wirid munajat maiyah bersama-sama yang dipimpin oleh Mas Dhian, Mas Munir, dan Mas Wahyu serta sesekali diiringi oleh Jodhokemil. Tentu tidak semua memahami, bahkan terasa asing dengan lafadz ataupun nada yang diwiridkan bersamaan. Namun, setidaknya wiridan akan menjadi pintu mengaji sebelum nyawiji. Apa yang sebelumnya menjadi sebuah perbedaan segera disepakati perjumpaannya melalui wirid.

Dan kesepakatan itu nampak pada saat jamaah bersama-sama asyrokolan/Indal Qiyam. Membaur menjadi satu dengan keberangkatan yang sama, rindu ataupun cinta kepada Kanjeng Nabi shollallhu ‘alaihi wassalam.

Maneges Qudroh Sebagai Ruang Belajar Bersama

Setelah selesai bermunajat. Para narasumber lokal atau yang berasal dari daerah Magelang dipersilahkan naik ke atas panggung. Narasumber yang hadir juga bisa diibaratkan sebagai angka-angka yang berbeda, dengan latar belakang ataupun bidang pekerjaan yang sedang diemban oleh masing-masing narasumber.

Ada Pak Habib, selaku tuan rumah dari Panti Yasaum, ada Gus Aushof sebagai wakil dari Mendopo Institute, Mas Gepeng sebagai perwakilan penggiat seni dan sutradara di kota Magelang, berikutnya tentu tak lupa Bapak dari Kepolisian dan Danramil selaku penjaga keamanan masyarakat. Tak lupa yang spesial adalah Mas Fuad dari Pertuni (Persatuan Tuna Netra Indonesia), yang selama ini kurang mendapat tempat bahkan perhatian pada acara-acara umum seperti ini.

Para narasumber pun bergantian memberikan ucapan selamat kepada Maneges Qudroh. Salah satu pernyataan dari Mas Gepeng, beliau menyatakan bahwa perjalanan 9 tahun Maneges Qudroh diharapkan mampu bersinergi menjawab kegelisahan untuk menjadi wadah aspirasi, ekspesi, dan interaksi. Dengan adanya gambaran dari apa yang nampak dari para narasumber dengan segala yang dianggap beda, ternyata bisa menyatu.

Harapannya, jamaah yang bukan dari maiyah sanggup memahami, bahwasanya disinilah ruang yang memungkinkan untuk saling belajar bersama atau sinau bareng. Bahkan jika mesti mengambil ilmu dari Mbah Nun di Mocopat Syafaat bulan kemarin., yang mengajarkan tentang siapa yang menjadi tingkatan nada tertentu (do, re, mi, fa, sol, la, si) apakah juga merupakan ‘Do’?

Ya, sebuah pemikiran ataupun cara pandang fakultatif tentu sulit untuk memahami. Jangankan memahami, mau menerima pun terkadang sudah membatasi dirinya sendiri sebagai akibat dari sebuah sistem pembelajaran yang cenderung memilah-milah atau membedakan satu dengan yang lain. Yang celakanya itu dianggap sebagai sebuah ilmu. Padahal, sebagian besar pengetahuan yang didapat selama ini dalam pendidikan, lebih banyak pengetahuan akan data atau pengetahuan megenai sebuah ilmu?

Menyadari Keutuhan Diri untuk Mengenal Kesejatian DIri

Selingan-selingan lagu dari Jodhokemil menjaga nuansa pembelajaran agar pembahasan tidak terlalu ngegas, dan tetap pada laju pembelajaran yang nyaman. Sekitar pukul 22.00, Mas Sabrang dan teman-teman dari Kadipiro pun ikut membersamai acara. Sebelum memulai, prosesi pemotongan tumpeng pun menjadi formalitas persembahan rasa syukur yang tersyiratkan atas laku perjalanan yang telah menapaki rentang waktu usia 9 tahun dalam hitungan kalender masehi.

Milad Maneges Qudroh ini menurut Mas Sabrang merupakan perjalanan untuk menuju gerbang berikutnya. Angka sembilan yang merupakan puncak akan menapaki jenjang kelas berikutnya dengan kembali lagi ke angka 1. Dengan bekal akan ilmu di kelas sebelumnya, tentu kelas berikutnya memiliki tantangan yang lebih kompleks daripada jenjang kelas sebelumnya.

Untuk apa jenjang itu perlu dilalui? Untuk menuju rasa tenteram. Dan rasa tenteram yang sekarang ini dirasakan, belum tentu akan bertahan seiring berjalannya waktu, terlebih dengan jenjang kelas yang baru. Rasa tenteram itu lambat laun akan kembali diintervensi oleh rasa kegelisahan. Mas Sabrang memberikan solusi untuk mengantisipasi prasangka-prasangka yang belum menentu dalam menuju rasa tenteram, kita mesti selalu tumbuh dan kontributif terhadap apa yang ada dalam perjalanan yang dilalui. Serta memastikan bahwa pertumbuhan itu menjadi bermanfaat.

Tentu untuk tumbuh perlu ada kesadaran-kesadaran tertentu. Dalam kesempatan kali ini, Mas Sabrang memberikan clue bahwa untuk mengetahui tanda-tanda pertumbuhan salah satunya adalah menyadari kesalahan. Apakah menyadari kesalahan itu salah? Tidak apa-apa jika kita mesti bersedih atas sebuah kesalahan. “Kadang-kadang sedih harus diberi ruang, karena itu juga bagian dari diri kita.” Kata Mas Sabrang.

Mas Dhian selaku moderator kemudian menanyakan tentang bagaimana cara untuk nyawiji. Mas Sabrang pun memberikan asumsi bahwa jawaban apapun yang diberikan pasti tidak akan efektif karena hanya disampaikan menggunakan bahasa. Mas Sabrang hanya menekankan, siapa yang mengenal diri kita sendiri, maka ia akan mengenal Tuhannya. Namun, Mas Sabrang mengingatkan bahwa satu hal yang harus dilakukan sebelum nyawiji adalah, sadarilah keutuhan diri.

Malam semakin larut, Mas Helmi, Mas Rizky dan Mas Roni pun bergiliran menyampaikan ucapan selamatnya kepada Maneges Qudroh. Mas Karim dari Maiyah Eropa menyampaikan bahwa ini adalah kebahagiaan. Dimana indikator kebahagiaan itu menurut beliau adalah hubungan yang baik. Kemerdekaan untuk belajar yang telah tercipta di MQ selama 9 tahun ini mewujudkan kebahagiaan.

Kita mesti sering berhati-hati pula, karena salah satu kesalahan kita adalah mengasumsikan bahwa setiap orang memiliki tujuan yang sama dalam hidup. Padahal, menurut Mas Sabrang believe system setiap orang sudah pasti berbeda-beda, tapi untuk menjadi manfaat itu bersifat universal. Karena pada akhirnya, semua jenjang kelas yang ditapaki adalah jalan menuju kemuliaan. Orang yang mulia menurut Mas Sabrang adalah orang yang dapat memanfaatkan waktunya sebaik mungkin sehingga tau dirinya yang sejati.

Acara pun berlangsung sampai menjelang pukul 02.00 dinihari. Di akhir acara, Maneges Qudroh mengadakan prosesi Kembul Bujono atau makan bersama dengan para jamaah yang hadir. Sebagai salah satu bentuk ungkapan rasa syukur telah diizinkan untuk tumbuh dan membersamai semesta dalam perjalanan mesra selama 9 tahun ini. Sebagai pungkasan, jamaah pun saling bersalaman dengan para narasumber diiringi oleh Jodhokemil dan Munier Syalala dengan membawakan nomor lagu “Yaa Rabbibil Musthofa”.

Terimakasih atas segala partisipasi dari semua pihak yang telah ikut mangayubagyo dalam acara, baik secara langsung atau atas dasar keterikatan ruhani yang semakin menguat, yang tentu tidak dapat kami sebutkan satu per satu. Matursembahnuwun Mbah Nun dan Syaikh Kamba, serta segenap penggiat Kenduri Cinta yang telah ikut memsyukuri momentum ini di tempat yang berbeda. Meski terbentang jarak, namun karena cinta semua menyatu dan nyawiji meski tanpa saling tatap. (TAS)

Panti Yasaum, 6 Februari 2020