Dalam kesempatan rutinan kali ini, Maneges Qudroh membersamai menyelenggarakan acara Haul dan Khataman yang diselenggarakan oleh pihak pondok. Mengingat dulu sekitar tahun 2014, pernah juga diadakan rutinan MQ sekali di halaman pondok ini. Hal tersebut membuat pihak pondok memutuskan mengajak bekerja sama dengan Maneges Qudroh membuat konsep acara bersama. Disisi lain, beberapa jamaah MQ sendiri merupakan alumnus pondok Riyodhus Solikhin. Acara yang terselenggara ini pun bermula setelah ngudo roso sedikit atas keresahan dari pihak pondok sendiri yang sudah sekian lama tidak lagi mengadakan acara mengeti (Haul) Abah Kiai Solikhin sejak terakhir diadakan tahun 2002.

Meski rembulan malu untuk menampakkan keanggunan sepenuhnya. Namun cahaya setengahnya terwakilkan oleh cahaya-cahaya yang terpancar dari jamaah ataupun masyarakat sekitar yang mulai berdatangan ba’da isya’. Dari anak-anak sampai para sesepuh nampak mulai berdatangan untuk mengikuti acara Haul Mengeti 20 tahun Kiai MU Solikhin sekaligus khataman 27 santri Majlis Ta’lim Riyodhus Solikhin.

Acara dibuka tepat pukul 20.00 dengan khataman dan pemberian ijazah kepada para santri. Grup musik Jodhokemil kemudian tampil semakin menambah kemeriahan pembukaan acara malam hari itu. Nada- nada berirama yang keluar dari pengeras suara nampak berhasil memanggil warga sekitar untuk ikut turut serta memeriahkan acara. Dan layaknya acara pada umumnya, sambutan-sambutan tak pernah absen ditampilkan dalam susunan acara. Sayang, soundman yang sangat berjasa dalam acara tersebut tidak kebagian jatah untuk turut mengisi sambutan seperti orang penting yang lain. Jadi, orang berjasa memang beda kelas dengan orang penting.

Terlepas dari mana yang menjadi prioritas antara ‘yang berjasa agar menjadi penting’ atau ‘yang penting agar bisa memberikan jasa’, dimana hal tersebut akan menimbulkan banyak kemungkinan-kemungkinan yang membutuhkan waktu atau mungkin ketidakjelasan arah untuk menemukan kesepahaman. Moderator yang tanggap membaca pemikiran subjektif tersebut dengan sigap merespons agar segera memanggil Mba Sulis untuk naik ke panggung membacakan tadarrus beberapa ayat firman Allah yang tertulis dalam As-Shaffat 92 – 101.

Kenapa As-Shaffat? Bukan penggalan surah yang lain, secara naluri selalu menimbulkan kegelisahan tersendiri, terutama bagi saya pribadi. Karena selalu ada makna-makna yang tersirat dengan keberlangsungan proses acara.Karena tadarrus di awal acara layaknya adab ‘permisi’ kepada Yang Maha Mengetahui untuk mencurahkan sedikit pengetahuan atau setidaknya membukakan cakrawala pengetahuan kepada seluruh insan yang terlibat.

Lantas, karena saya begitu jauh untuk dapat mengkonfirmasi pemilihan surah tersebut. Kemudian saya mencoba mentadabburi sepenggal makna dari lantunan indah bacaan ayat tersebut, salah satunya adalah rabbi hablii minash-sholikhin. “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang sholeh”. Dan memang pemandangan hari ini begitu banyak anak-anak yang hadir dan semoga anak-anak itulah bagian dari kesholehan yang telah teranugerahkan.

Karena malam ini masuk dalam tema Haul atau mengeti (memperingati) 20 tahun Kiai Solikhin, tak lupa bacaan tahlil turut mewarnai kekhusyukan jamaah di awal acara sebelum acara inti berlangsung. Begitu pula cerita-cerita tentang karomah/keistimewaan yang diberikan kepada Almarhum Kiai Solikhin. Dikisahkan kembali oleh  oleh para santrinya tentang hal-hal ghaib yang sering diprasangkai sebagai sesuatu yang takhayul di era digital seperti sekarang ini.

ILMU TERTINGGI BERADA DI DESA

Habib Anis pun mulai menaiki panggung sekitar pukul 22.00 bersama Pak Zainuri, Pak Danramil, beserta bapak-bapak yang lain. Sepertinya sudah banyak yang menanti kehadiran beliau. Karena di desa, jam segitu terasa sudah terlalu larut dan lebih banyak menahan rasa kantuk, terutama bagi para ibu-ibu.

Pertama-tama, Habib Anis sedikit bercerita tentang pengalamannya nyantri. Dan menurut beliau salah satu yang dikenang adalah amalan. Salah satu kebiasaan santri adalah meminta amalan kepada Kiainya. Pada saat itu, gurunya Habib Anis memberikan suatu amalan yang sulit, yaitu tidak boleh tidur selama 41 hari. Habib beserta teman-temannya kemudian bersepakat untuk saling mengingatkan. Jadi, yang terlihat ngantuk kena gebuk oleh teman yang lain. Siapa yang tidak marah? ketika ngantuk malah kena gebuk teman yang lain. Jadi selain pantangan untuk tidur, mengontrol emosi juga menjadi ujian yang bisa jadi lebih berat. Namun, bagi Habib Anis, pengalaman-pengalaman seperti itu akan menambah kecerdasan spiritual seseorang. Tentu bukan kecerdasan biasa yang diartikan secara umum.

Seorang Habib yang merasa malu jika meski dipanggil Habib ini, berkata bahwa apapun yang dirasakan untuk mengenang yang telah hilang salah satunya harus ada ikatan yang kuat yang terjalin. Dan, hal tersebut yang sering tidak dipahami oleh orang-orang. Dengan mudahnya komunikasi, apa yang terjadi justru sebaliknya. Bermuwajjah menjadi hijab tersendiri bagi orang zaman sekarang untuk saling bertatap muka. Apalagi berjuang bahkan berjuang hanya demi sebuah pertemuan yang membahas tentang aji (pengajian). Sudah jarang. Kebanyakan masih terjebak kepada tokoh yang mengisi. Jadi, tidak mudah untuk mendapatkan niat yang tulus untuk dapat menghadiri acara seperti ini. Untuk terus berjalan mengais ilmu.

Hubungan manusia dengan orang lain bukan soal akal saja, namun tentang rasa. Sudah banyak tuntutan dalam islam mengenai hal itu. Banyak da’i-da’i baru menurut Habib kurang memperhatikan tentang rasa dan hanya mengedepankan akal atau pemahamannya saja. Sekalipun dia lulusan universitas luar negeri. Habib Anis mengibaratkan suasana ini dengan iklim dunia persilatan, siapa-siapa ingin dihadapi. Merasa lebih tau, dan tanpa mengedepankan rasa, menyalahkan bahkan menganggap kafir seseorang pun seperti mudah terlontar begitu saja. Padahal, bukankah kata-kata itu menjadi sesuatu yang meski dijaga karena kata-kata sendiri adalah do’a?

Tapi, jangan khawatir. Habib Anis justru menyuruh untuk bersyukur, terutama karena jamaah semua tinggal di lingkungan yang masih bisa disebut sebagai desa. Menurut Habib Anis, ilmu tertinggi justru berada di desa, bukan di universitas-universitas ataupun sekolah-sekolah formal seperti yang mayoritas kita yakini selama ini. Maka dari itu, islam di negeri ini akan sangat sulit untuk dijebol dengan keberadaan ilmu-ilmu yang masih banyak diajarkan dari berbagai pelosok desa. “Islam abad 21 akan memimpin dunia, dan akan muncul di nusantara.” Pungkas Habib Anis.

ISTIQOMAH YANG PALING UTAMA

Mengingat pengalaman nyantri, Habib Anis kemudian memberikan salah satu ijazah yang pernah diberikan oleh gurunya. Istilah ijazah ini sendiri dala dunia santri tidak berupa selembar kertas dengan cap dari lembaga formal tertentu. Ijazah dari santri lebih banyak dimaknai sebagai suatu pitedah/anjuran (bisa berupa apa saja) yang diberikan oleh gurunya untuk diamalkan. Malam hari itu, Habib Anis ijazah yang diberikan berupa bacaan surat Al-Fath ayat 1-3.

Stkurangnya ada lima fadhillah atau keutamaan yang dibeberkan oleh Habib Anis. “Pertama, penjenengan badhe diparingi kemenangan ingkang nyoto (kamu akan diberikan kemenangan yang nyata), kemudian bakal diampuni dosa-dosannya sakdurunge lan sakwise (sebelum dan sesudahnya). Ketiga, disempurnakan niatnya.” Kata Habib Anis. Sampai sini beliau mengibaratkan nikmat dengan gula. Gula itu nikmat, tapi apabila dikonsumsi secara berlebihan akan berakibat diabetes. Begitu juga dengan nikmat, segala seusatu yang berlebihan pasti mengandung efek samping.Dan “disempurnakan” dalam ayat ini menurut tafsir bahwa kemungkinan jelek yang terdapat di gula itu dihilangkan.

Kemudian Habib Anis melanjutkan, “keempat, diberikan petunjuk jalan yang lurus. Dan terakhir, diparingi nashron aziz.” Apa itu nashron aziz? Beliau menyatakan bahwa nashron aziz ini adalah bantuan yang luar biasa. Bantuan yang unik yang tidak terpikirkan oleh kita semua.

Seperti karomah-karomah yang dialami oleh Kiai Solikhin merupakan bagian dari nashron aziz. “Tapi, tahukah njenengan kalau ada yang lebih istimewa dari itu?” Habib Anis mencoba mengajak jamaah untuk sedikit aktif karena tentu waktu yang semakin larut. Berbagai jawaban sumbang terdengar sayu dari jamaah yang malu-malu untuk melantangkan suaranya. “Al istiqomatu khoirun min alfi karomatin”, begitu Habib menjelaskan, bahwa 1 istiqomah lebih baik daripada 1000 karomah.

“Dan istiqomah yang paling utama itu apa?” lanjut beliau meneruskan pertanyaan kepada jamaah. Kali ini jamaah nampak serius memperhatikan, karena hal ini juga merupakan keutamaan yang sudah pasti hanya dimiliki oleh para wali. “Laa Khoufun alaihim walahum yahzanun. Yaiku wong sing ra ndue wedi lan sing ra ndue rasa sedih (orang yang tidak punya rasa takut dan rasa sedih).” Sebagai manusia, kita akan sangat sulit untuk dapat menghilangkan kedua perasaan tersebut. Bahkan, dengan kelaparan atau ketidakjelasan bayang-bayang masa depan, perasaan takut seperti selalu menghantui. Rasa sedih selalu membersamai ketika rasa lapar menyapa, terutama ketika uang tidak mencukupi untuk memenuhi keinginan.

Tapi, yang utama dari hadits tersebut adalah berbahagialah. Jika memang kalian benar-benar meyakini Allah telah menanggung segalanya, ketakutan atau kesedihan itu seolah enggan untuk menghampiri. Itulah kenapa orang akan merasa senang ngopeni ulama/wali, bukan ngopeni orang pemalas yang tidak memiliki pekerjaan yang ‘sok’ merasa lebih mengetahui. Kyai zaman dahulu tidak ada yang berkenan untuk menjadi imam sholat. Akan tetapi di zaman sekarang, banayk orang justru mendorong dirinya sendiri menjadi imam.

Diantara semua orang, yang paling berat ujiannya adalah orang beriman. Kemudian diantara orang beriman, yang paling berat ujiannya adalah para wali. Di atasnya para wali, masih berat ujiannya para nabi. Lalu diantara sekian puluh ribu nabi, masih berat ujian para Ulil-Azmi (pemimpin/nabi yang berorientasi global atau berlaku bagi semua manusia). Dan yang diantara para Ulil-Azmi, yang terberat ujiannya adalah “Aku (Rasulullah SAW)”. Habib Anis sedikit memberikan gambaran bahwa ujian yang kita alami sehari-hari belum seberapa. Setidaknya kalau kita betul-betul beriman, harusnya dergembira dan bahagia karena yakin bahwa pertolongan Allah amatlah dekat. Bahkan, antara kesulitan dan kemudahan merupakan pilihan (innama’al ‘usri yusron) karena datang bersamaan. “Kalau susah pasti ada yang salah. Apakah ada urusan yang tidak ditentukan oleh Gusti Allah?” kata Habib Anis.

Jika bertemu dengan prasangka orang lain, itu merupakan ujian tersendiri. Habib Anis menjelaskan bahwa jika itu fitnah, itu seumpama api yang membakar besi. Itu namanya fatana. Apa yang dianggap fitnah itu sebenarnya adalah proses kita sedang dibersihkan. Sebaliknya, pujian seperti minyak wangi, tapi diminum coba? Artinya jangan dimasukkan hati kalau tidak ingin keracunan pujian. Zaman sekarang banyak fenomena orang keracunan minyak wangi. Itulah salah satu masalah besar negeri ini, bukan demo-demo yang sedang merebak di kota-kota besar.

Karena waktu sudah mendekati pukul 24.00, acara mesti segera dipungkasi. Pak Danramil dipersilahkan menyampaikan beberapa kata ataupun kesan tentang acara malam hari ini. Kembali Jodhokemil yang kali ini dibersamai oleh Mas Munir menampilkan satu shalawat nabi sebagai pertanda acara telah usai. Do’a bersama menjadi pungkas acara yang meski diamini bersama-sama. Tentu dengan penuh hikmat dan bahagia.

Magelang, 6 Oktober 2019