Beragama Zaman Now

Sedikitnya 50 orang duduk melingkar pada majelis masyarakat maiyah Magelang Maneges Qudroh putaran Oktober 2018. Wirid munajat Maiyah dan tahlil yang dipimpin Mas Triono mengawali acara sekaligus menghantarkan doa untuk keselamatan saudara-saudara bangsa yang menjadi korban bencana gempa bumi di Palu, Sigi, Donggala juga Lombok belakangan ini.

Sinau bareng sedulur maneges kali ini ditemani Mas Helmi Mustofa yang sehari-hari merupakan staff Progress. Pada kesempatan ini selain berdiskusi bersama sebagaimana biasanya, Mas Helmi juga diminta untuk meresensi buku karya Syekh Nursamad Kamba yang beberapa waktu lalu dihimbau oleh Mbah Nun untuk dikupas bersama-sama.

Mas Helmi membuka obrolan tentang adanya seorang pemuda yang datang ke Kadipiro bermaksud untuk berguru langsung kepada Mbah Nun. Wajahnya nampak penuh beban pikiran. Namun keinginannya untuk berguru langsung harus kandas lantaran urusan teknis yang tidak akan mungkin dapat diwujudkan pihak Kadipiro.

Bukan tanpa alasan, Mas Helmi yang kebetulan menjumpainya lantas membantu pemuda tersebut dengan semacam pengertian. Bahwa apa sih bedanya berguru langsung dengan tidak langsung? Yang perlu disamakan kan cuma frekuensinya. Anda bisa berguru bahkan melalui youtube sekalipun.

Belakangan hari pemuda yang berasal dari Jember tersebut dikabarkan mengaku berjalan kaki dari rumahnya sampai ke Yogyakarta untuk bertemu dengan Mbah Nun. Mengharukan di satu sisi, namun konyol di sisi lainnya. Hasrat berguru langsung yang menggebu pemuda tersebut seolah harus ditempuh secara administratif sebagaimana berguru di pondok-pondok pesantren.

Mas Helmi lantas mencoba mengkorelasikannya dengan ‘Faman kaana yarjuu liqaa-a rabbihi falya’mal ‘amalan shaalihan.’ Untuk berjumpa dengan Allah itu konsepnya sederhana. Berbuat kebajikan. Sebab dalam perbuatan keabaikan seperti menjenguk orang sakit, menolong orang yang kesusahan dan seterusnya sejatinya telah mempetemukan kita dengan Allah. Allah bertajali di sana. Sejatinya Islam itu mempermudah.

Di zaman now, agama menjadi terpisah dari Tuhan sebab formalisme agama terlanjur menjadi tembok penghalang yang menyulitkan manusia sendiri dalam mencari Tuhannya. Untuk mencapai kemesraan kepada Tuhan manusia harus melalui sederet administrasi golongan keagamaan yang dibuatnya sendiri. Dalam bukunya “Kids Zaman Now”, Syekh Nursamad Kamba lebih dalam menyoroti perilaku manusia zaman now yang lupa menjali kemesraan dengan Sang Maha Pengasih hingga jauh dari kata kebijaksanaan dan kearifan.

Jika menilik tarikh islam, di abad ke-2 Hijriyah terminologi agama mulai mengalami dikotomi. Manusia mulai memisahkan pemahamannya antara pekerjaan-pekerjaan sosial dengan pekerjaan-pekerjaan ritual agama. Seolah-olah pekerjaan-pekerjaan sosial lebih bermakna dunia sedang ritus agama di wilayah sebaliknya. Yang di kemudian harinya agama bertransformasi menjadi institusional.

Dimulai pecahnya perang Siffin, kita juga bisa menemukan bahwasannya ‘islamnya’ Rasulullah mulai menampakkan distorsinya. Ketidak percayaan satu sama lain, otoritarian, politik kekuasaan telah mulai mencemari wilayah-wilayah keagamaan. Hingga pada akhirnya tak sedikit hadist-hadist yang kelak muncul ke permukaan namun sarat dengan intrik politis. Agama mulai berwajah dogma-dogma yang ditunggangi tujuan kekuasaan.

Peradaban Islam mulai semakin bergeser manakala sains dan teknologi didominasi kebudayaan barat. Sebagai contoh, di dalam buku Kids Zaman Now disinggung salah satu hadis tentang anak yang dilahirkan dalam keadaan fitroh maka bapak ibunya yang menjadikannya nasrani, majusi, dan yahudi, yang disinyalir merupakan hadis rekaan untuk menjawab tuntutan barat tentang bagaimana konsep teologi islam pada saat itu. Sebab dalam Al Qur’an sendiri dinyatakan bahwa Dia menciptakan manusia dalam keadaan fitroh.

Juga formulasi asma Allah yang lahir untuk menjawab konsep teologi islam yang dipertanyakan oleh pihak di luar islam. Dan seterusnya. Artinya kita dapat mengambil kebijaksanaan jika merunut sejarah yang menunjukkan distorsi antara Islamnya Rasulullah dengan Islamnya kids zaman now. Beragamanya man zaman now.

Diskusi mengalir tanpa terasa melewati tengah malam. Diselingi dengan permainan, Mas Sigit  mengajak hadirin untuk rileks sejenak dari jumudnya diskusi. Rembug bareng maneges qudroh dipuncaki dengan sohibul baiti.

(Wahyu Esbe /06-10-2018)

Tulisan Terkait