Belajar Siklus “Berangkat-Pulang” Menapaki Puncak Keindahan

Menyang mulih atau dalam bahasa Indonesia memiliki arti “berangkat-pulang” yang dijadikan tema malam hari ini semakin menambah minat untuk datang ke rutinan Maneges Qudroh, setidaknya bagi saya pribadi. Karena setiap insan pasti memiliki kesadaran bahwa satu kepastian dari yang hidup adalah mati. Mati atau berpulang kembali. Akan tetapi, di zaman yang serba instan seperti sekarang ini, kematian seolah menjadi suatu hal yang sangat dihindari. Sebaik apapun kita mengantisipasi datangnya waktu dipanggil kembali, tak ada satupun yang dapat mengubah takdir tersebut. Bahkan, Rasulullah SAW sendiri berpesan bahwa salah satu nasihat terbaik adalah mengingat kematian.

Namun, mengapa manusia selalu mengejar sesuatu yang tidak bisa dijadikan bekal untuk berangkat pulang? Mbah Nun sering menyampaikan pesannya, jika sekarang tujuan hidup itu sudah berbalik. Layaknya menapaki sebuah gunung, kita hidup dan berjuang untuk mencapai keindahan puncak tersebut.  Kekayaan, kekuasaan, kekuatan, eksistensi yang oleh penggiat MQ diibaratkan seperti menapaki puncak gunung, lebih memiliki prioritas daripada mengutamakan kebaikan. Hingga tiba saatnya kita mesti menuruni puncak tersebut untuk kembali pulang, terkadang kita lupa masih membutuhkan bekal dan energi. Tak sedikit para pendaki tersesat bahkan hilang disaat mereka hendak kembali pulang. Apakah hidup juga seperti itu?

Dalam rutinan edisi ke-103 ini, setidaknya kita bisa bersama-sama belajar. Sinau bareng untuk mencari ketepatan akan makna dari Menyang Mulih. “Apakah ketika kita berangkat/pergi menuju ke suatu tempat, lantas kita tidak ada niatan sama sekali untuk pulang?” Kalau toh tidak ada niat untuk pulang bukankah itu lebih bermakna “minggat”? Sebenarnya pemakaian kata berangkat sendiri digunakan sebagai suatu idiom bahwa ia juga akan segera pulang.

Malam ini, acara rutinan diselenggarakan di sebuah tempat yang spesial. Berhubung Omah Maneges sebagai tempat rutinan biasanya sedang ada pembangunan, lantas pada kesempatan ini kita mesti hijrah ke suatu tempat. Kesepakatan mencari tempat pun tak butuh waktu lama melihat potensi tempat di salah satu penggiat MQ yang memilik usaha rafting. Bertempat di basecamp “Rapid Volcano Rafting” yang berada di tepian sungai, pada momen ini memberikan nuansa yang berkesan. Dengan gemercik air yang tanpa henti menemani, pun dengan suara alami para binatang nocturnal yang seolah mengiringi kami dengan nyanyian alaminya.

Manusia hidup membutuhkan keseimbangan antara jasmani dan rohani. Sebenarnya manusia sendiri selalu dalam pencarian tentang konsep rohani yang selalu menemukan makna-makna baru sepanjang hidupnya. Berbeda dengan jasmani atau bentuk yang dengan mudah dapat untuk disepakati bersama karena wujud. Rohani manusia yang tak berbentuk atau berwujud tidak mudah untuk disepakati, dan perhatian akan konsep rohani sangat mempengaruhi manusia dalam berperilaku yang berwujud sebagai akhlak.

“Kita menjalani hidup tidak usah terlalu rumit-rumit karena sudah mengetahui tujuan yang jelas (kembali pulang). Hanya saja, kita tidak mau untuk terus berjuang dalam segala hal.” Kata Mas Eko. Memang terkadang kerumitan dalam memikirkan sesuatu justru menjadi bumerang kepada diri sendiri atau bisa dikatakan sebagai salah satu hijab untuk berani bergerak untuk memulai sesuatu. Alhasil, kita tidak melakukan apa-apa karena terlalu jatuh dalam keruwetan cara berfikir diri sendiri. “Tujuan memang penting, tapi jangan jadikan tujuan tersebut menjadi sebuah tendensi. Yang terpenting adalah bagaimana cara menyusun strategi perjalanan hidup yang efektif.” Lanjut Mas Eko.

Antara rencana dan strategi itu sendiiri tentu memiliki perbedaan makna. Renana ditujukan demi sebuah tujuan, sedangkan strategi lebih sebagai kuda-kuda untuk mengantisipasi suatu hal yang mungkin sangat diluar rencana. Untuk melakukan perjalanan awal sebuah kehidupan ini pun sesungguhnya kita masih sangat buta akan rute dan rintangan yang akan dilalui. Kita sedikit perlu lebih waspada ketika mendekati sebuah puncak. Karena keindahan itu bisa jadi akan menjadi sebuah ujian bagi kehidupan masing-masing. Kalau kita tidak waspada, bukan tidak mungkin tujuan itu akan berakhir pada “berburu status”. Apapun.

Mas Eko pun melanjutkan dengan menitikberatkan menyang mulih untuk dimaknai secara lebih luas, terutama subjeknya. Tidak sebatas untuk diri sendiri, namun kita diajak untuk sedikit memperluas cara pandang sebagai sebuah bangsa atau komunitas. Sebagai sebuah bangsa, terkadang kita terlalu banyak menuntut juga kepada para pemimpin tentang sebuah kemajuan. “Pernahkah kita berfikir kemajuan sebagai sebuah bangsa itu yang seperti apa? Kemajuan teknologi-kah, ekonomi-kah, atau masalah moral?” Memang betul di negara kita ini semakin banyak sarjana dan orang pintar, yang seharusnya kemajuan ekonomi bukan menjadi sebuah masalah bagi bangsa dengan kekayaan alam yang sangat melimpah ini. Tapi, mengapa dengan semakin banyaknya kepintaran tersebut bukannya menjadikan moral yang bangsa baik tapi justru malah sebaliknya?

Lontaran-lontaran pertanyaan dari Mas Eko tersebut diharapkan dapat meluaskan cakrawala berpikir JM yang hadir pada malam hari itu. Mas Adi yang dajak ke depan panggung sedikit ikut memaknai Menyang Mulih, terutama dengan pemikiran beliau sebagai seorang guru sekaligus sastrawan di kota Magelang. Yang utama menurut Mas Adi adalah manusia pada umumnya ketika sudah mencapai puncak, meskipun untuk mencapai puncak itu sendiri sudah pasti butuh perjuangan, keinginan untuk kembali turun menjadi rasa kemalasan yang tiba-tiba muncul. Itu baru muncak, apalagi kalau tetiba teringat mesti kembali pulang menghadap Yang Kuasa.

Seorang pujangga wanita muda dari salah satu sudut Magelang pun ikut membersamai para penggiat untuk memaknai bersama. Tentunya setelah menunjukkan kepiwaiannya melantunkan sajak-sajak kata yang sangat sarat akan makna. Karena puisi itu adalah tantangan bagi yang menikmatinya. Mba Kiki sedikit menyampaikan, “menyang mulih itu merupakan sebuah siklus.” Terkadang kita perlu mengerucutkan makna setelah tadi sempat memperluasnya. Berawal dari pembahasan tentang kapan hidup dan mati.

Bukankah setiap hari kita mengalami kematian kecil, salah satunya adalah tidur. Karena pada saat tidur tersebut kita sama sekali hilang kesadaran. Seluruh indra penopang kita yang membuat serasa hidup, seakan seketika mati tanpa mampu lagi menguasainya. Dari hal tersebut, sedikit dapat diambil sebuah makna, jika kita cukup pada hari itu juga memiliki kesadaran untuk  menyang mulih. Karena setiap hari kita pasti mengalami puncaknya masing-masing dalam keadaan sadar (tidak tidur). Kita mengalami siklus tersebut setiap hari. Oleh karena itu, kita sendiri setidaknya belajar untuk memperbarui niat setiap hari.

Tak terasa malam pun semakin larut, permainan sedikit disajikan mumpung lingkungannya yang seperti acara outbond ini sangat mendukung untuk melibatkan para mayoritas jamaah yang hadir. Dan ternyata, ada JM yang datang dari Gunung Kidul satu rombongan menyempatkan bersilaturrahmi ke Magelang. Mas Amin menjadi wakil dari rombongan Gunung Kidul untuk menyampaikan pesan kesannya dalam menghadiri acara rutinan ini.  

Setelah Mas Amin bercerita, acara pun segera dipungkasi karena tak terasa waktu telah menunjukkan sekitar pukul 01.00 dinihari. Lantunan Sohibu Baiti dilanjutkan dengan do’a bersama menjadi akhir dari acara resmi-resmian pada malam hari itu. Karena sudah menjadi kebiasaan, akan selalu ada acara yang lebih tidak resmi berikutnya. Melingkar, ngudoroso secapeknya.

Magelang, 8 September 2019