“Hanzalah telah munafik! Hanzalah telah munafik!” teriak Hanzalah. Kakinya berlari cepat ke Masjid. Nabi pasti ada disana fikirnya. Riak ketakutan dan secuil penyesalan terlukis diwajahnya.

“Hanzalah telah munafik! Hanzalah telah munafik!” Diulangnya beberapa kali. Sedang dalam perjalanan, Hanzalah berpapasan dengan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq. Sayyidina Abu Bakar terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Hanzalah tersebut.

“Apakah yang telah kau katakan ini wahai Hanzalah?” Tanya Abu Bakar.

“Wahai Abu Bakar, ketahuilah Hanzalah telah menjadi munafik. Aku ketika bersama Rasulullah merasakan seolah-olah surga dan neraka itu sangat dekat padaku. Aku menangis karena takut akan neraka.”

“Namun. Dirumah aku tertawa riang bersama anak-anak dan istriku. Hilang tangisku bersama Rasulullah.”

“Aku telah menjadi munafik!” Ujar Hanzalah sambil terisak-isak.

Sayyidina Abu Bakar terkejut. “Kalau begitu aku pun munafik. Aku pun sama denganmu wahai Hanzalah.”

Lantas, kedua-dua sahabat ini bersama-sama menemui Rasulullah. Tangisan tidak berhenti. Mereka benar-benar ketakutan. Takut pada Allah. Takut azab neraka yang sedia menunggu para munafik.Hati mereka gementar.

Sesampainya di hadapan Rasulullah, Hanzalah berkata, “Wahai Rasulullah, Hanzalah telah munafik.”

Rasulullah bertanya. “Kenapa?”

“Ketika aku bersamamu ya Rasulullah, aku merasakan seolah-olah surga dan neraka itu sangat dekat. Lantas air mataku mengalir. Tapi, dirumah aku bergurau senda keriangan bersama anak-anak dan isteriku . Tidakkah aku ini seorang munafik ya Rasulullah!”

Rasulullah tersenyum. Lantas baginda bersabda, “Demi yang jiwaku di tanganNya andai kalian tetap seperti kalian di sisiku dan terus berzikir niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian, walau kalian berada di atas tempat tidur dan di jalan raya, akan tetapi wahai Hanzalah, ada waktumu (untuk beribadah) dan ada waktumu (untuk duniamu).(HR. Muslim)

Itulah sekisah epik perjalanan generasi awal Islam ini, penuh kemesraan, dan cinta, tak ada vonis menghakimi, namun yang ada proses tabayun, bertanya langsung kepada si empunya, apa maksudnya mengeluarkan statement/ pernyataan seperti itu.

Sungguh ironis, 14 abad berselang sekan kita lupa kisah diatas, dengan mudahnya kita pelintir pernyataan orang/tokoh demi kerakusan naiknya rating web dan akun sosmed kita. Begitu mudah kita potong video seseorang dan memuat meme–meme sampah guna memenuhi hasrat kepentingan kelompok kita.

Bisa jadi, jika Hanzalah terlahir di akhir zaman ini, respon dari kepekaan hatinya akan kualitas iman yang naik turun hingga terlontar pernyataan “Hanzalah telah munafik! Hanzalah telah munafik! Dan lapangnya hati Abu Bakar yang bersedia tabayyun, dan akhirnya memahami dan menganggap wajar Hanzalah berkata seperti itu, bahkan beliau sendiri berujar,” “Kalau begitu aku pun munafik. Aku pun sama denganmu wahai Hanzalah.” akan jadi trending topic dijagad sosmed saat ini, disertai cerca dan vonis-vonis gila yang bermacam-macam.

“Jika mati, tidak layak kita mensholati mereka”

“Neraka tempat kembali yang layak bagimu, tak seorangpun bisa menyelamatkanmu.”

Ono opo maneh wong iki, obate entek paling.”

Beruntunglah ketika itu Hanzalah bertemu Abu Bakar yang memiliki keberanian untuk segera minta klarifikasi langsung, tidak seperti saat ini: ketika orangnya pergi, baru kasak-kusuk di belakang, eh tadi kok dia bilang gitu ya? “Aneh tuh, tau gak sih konsekuensinya, bla bla blaeh, tahu tahu jebret muncul di headline Madinah Post “Hanzalah telah Munafik” Ngeri gak, sih!

Hebatnya lagi Abu Bakar dengan   kelapangan dada dan kepekaan hatinya dengan cepat memahami maksud dari kegundahan hati sahabatnya itu, hingga ia menenangkannya dengan berkata, “Kalau begitu aku pun munafik. Aku pun sama denganmu wahai Hanzalah.” Tak perlu dalil dan debat berbelit seperti diruang sosmed saat ini.

Puncaknya adalah ketika hal itu diketahui kekasih mereka, Nabi Muhammad SAW, Sang Nabi dengan senyum tulusnya berujar,”Wahai Hanzalah, ada waktumu (untuk beribadah) dan ada waktumu (untuk duniamu)”. Seakan beliau memberi pesan kepada kita hidup beragama, beribadah, berislam itu mudah dan sederhana bagi sahabat sekaliber mereka. Tak ada hujatan, atau vonis karena orang yang bingung atau tersesat yang dibutuhkan adalah petunjuk, arahan, nasihat yang baik.

Sayangnya kaidah ini hilang di era masa kini, Kita gemar kasih stempel, label demi pujian, penerimaan, dan loyalitas pengikut kita. Salah satu contoh adalah posting di situs berita www.nahimunkar.com lima hari yang lalu, memuat pernyataan Cak Nun, ”Aku menyebut diriku muslim saja aku tidak berani, karena itu merupakan hak prerogatifnya Allah,untuk menilai aku ini muslim atau bukan.”

Ungkapan beliau diatas adalah buah taddabur serta kepekaan hati yang mendalam dari sosok Cak Nun terhadap salah satu hadits berikut ini:

 Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118)

Tentunya setiap orang yang ber-KTP Islam, jika ditanya apa agamamu? Pasti menjawab Islam. Dan melekat pada dirinya hak dan kewajiban hukum Islam pada dirinya secara dhahir, termasuk berhak menjadi wali nikah anaknya dan dimakamkan selayaknya orang Islam jika meninggal. Namun apakah serta merta dia seorang muslim, mukmin serta terminologi lainnya dalam Islam? Tentu tidak, karena ada syarat dan ketentuan yang berlaku yang melingkupinya yang semuanya itu secara hakikat menjadi hak prerogatif Allah untuk menentukan akhir kehidupan seseorang itu sebagai muslim atau tidak.

Mari kita renungkan Hadits  dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya ada salah seorang di antara kalian beramal dengan amalan penduduk surga, hingga antara ia dan surga tinggal satu hasta, lantas catatan takdir mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amalan penduduk neraka, lantas ia memasukinya. Dan ada pula yang pernah beramal dengan amalan penduduk neraka, hingga antara ia dan neraka tinggal satu hasta, lantas catatan takdir mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amalan penduduk surga, lantas ia memasukinya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dari Sahl bin Sa’ad, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya amalan itu tergantung dari akhirnya.” (HR. Bukhari)

Jadi, mari kita menjadi Abu Bakar muda yang mau berlapang dada, menggali maksud yang tersirat dari teriakan Hanzalah-Hanzalah abad ini, tak semuanya dimaknai secara tekstual. Janganlah sekedar bisa menikmati manisnya mangga, tapi cobalah mencicipi proses menanam “pelok” atau biji mangga, hingga tumbuh dan merawatnya sampai berbuah. Akan banyak hikmah dan kebijaksanan hidup  yang akan kita peroleh dengan mau mengasah raga, rasa, dan jiwa dengan mentaddaburi segala hal yang tersirat baik itu pada  ayat-ayat kauniyah maupun qauliyah-Nya, hadits Nabi ataupun tersadur ulang dari karya para ulama, atsar para sahabat nabi, dan ungkapan kata seseorang.

Akhirnya jikalau dirasa perlu untuk tabayyun, atau bahkan menasehati maka mati kita belajar bagaimana para ulama dahulu saling menasehati sebagimana dikisahkan Imam Ahmad Ibnu Hambal saat menasehati muridnya Harun ibnu ‘Abdillah.

Harun ibn ‘Abdillah, seorang ulama ahli hadits yang juga pedagang kain di kota Baghdad bercerita: Suatu hari, Saat mulai larut malam, pintu rumahku di ketuk oleh seorang laki-laki. “Siapa..?”, tanyaku. “Ahmad”, jawab orang diluar pelan. “Ahmad yg mana..?”  Tanyaku makin penasaran. “Ibn Hanbal”, jawabnya pelan.

 “Subhanallah, Itu guruku!” kataku dalam hati. Maka kubukakan pintu. Kupersilahkan beliau masuk, dan kulihat beliau berjalan berjingkat, seolah tak ingin terdengar langkahnya. Saat kupersilakan untuk duduk, beliau menjaga agar kursinya tidak berderit mengeluarkan suara.

 “Wahai guru, ada urusan yang penting apakah sehingga dirimu mendatangiku selarut ini?” “Maafkan aku ya Harun. Aku tahu biasanya engkau masih terjaga meneliti hadits selarut ini, maka aku pun memberanikan diri mendatangimu. Ada hal yang mengusik hatiku sedari siang tadi.”

 Aku terkejut.  “Sejak siang? Apakah itu wahai guru?”

 “Begini…” Suara Ahmad ibn Hanbal sangat pelan, nyaris berbisik, “Siang tadi aku lewat disamping majelismu, saat engkau sedang mengajar murid-muridmu. Aku saksikan murid-muridmu terkena terik sinar mentari saat mencatat hadits-hadits, sementara dirimu bernaung di bawah bayangan pepohonan.  Lain kali, janganlah seperti itu wahai Harun.  Duduklah dalam keadaan yang sama sebagaimana murid-muridmu duduk!”

 Aku tercekat, tak mampu berkata.

Maka beliau berbisik lagi, mohon pamit, melangkah berjingkat dan menutup pintu hati-hati.

Masya Allah…  Inilah guruku Ahmad ibn Hanbal, begitu mulianya akhlak beliau dalam menyampaikan nasehat. Beliau bisa saja meluruskanku langsung saat melintasi majelisku. Tapi itu tidak dilakukannya demi menjaga wibawaku dihadapan murid-muridku. Beliau juga rela menunggu hingga larut malam agar tidak ada orang lain yang mengetahui kesalahanku.  Bahkan beliau berbicara dengan suara yang sangat pelan dan berjingkat saat berjalan, agar tidak ada anggota keluargaku yang terjaga. Lagi-lagi demi menjaga wibawaku sebagai imam dan teladan bagi keluargaku.

Teringat pula pesan yang disampaikan Imam Asy Syafi’i: “Nasehati aku saat sendiri, jangan di saat ramai & banyak saksi (tambahan penulis: via sosmed, web, dll). Sebab nasehat ditengah khalayak, terasa hinaan yang membuat hatiku pedih dan koyak; Maka maafkan jika hatiku berontak.”