“Simpan saja segala keluh kesahmu dalam plastik kantong kresek, karena TUHAN maha mengetahui”. (teks oleh Bara Purnama)

Siang yang terik di depan warung soto mbok Jum tidak jauh dari tempat situs peradaban yang katanya terkenal itu, seorang lelaki dengan tubuh tegap baru turun dari mobil mewahnya bersama beberapa temannya sambil berjalan dia berkata “Gila panas sekali hari ini”. Suaranya sangat jelas terdengar di telingaku, aku yang kebetulan duduk dekat pintu masuk warung baru saja menyelesaikan semangkuk soto dengan dua tahu bacem sebagai pengganti kerupuk (aneh).

Tak lama kemudian seekor kucing kurus berbulu hitam memenuhi tubuhnya dengan wajah memelas sontak mengeong-ngeong dengan suara paraunya tepat di kolong meja dekat kakiku memohon iba padaku, mungkin kucing ini lapar (pikirku). Sambil memandangi meja di depanku dengan berharap ada sejumput sisa makanan yang dapat kuberikan buat si kucing, namun sayang sekali tidak ada sedikitpun makanan yang tersisa di atas meja, rupanya hari ini aku benar-benar lapar. Ah mungkin kau dapat meminta sedikit makan di meja sebelahku yang kebetulan di tempati lelaki tegap dan beberapa temannya siapa tau mereka sedang berbaik hati memberikan sedikit makanan untukmu (dalam hati aku berbisik mencoba menghibur).

Akupun beranjak perlahan meninggalkan meja makan menuju kasir sambil sesekali menatap kucing hitam tersebut yang kini sudah berada di bawah meja makan seorang lelaki tegap dan beberapa temannya yang khusuk melahap makanan yang memenuhi meja makan mereka. Ya mudah-mudahan hari ini laparmu tergenapi (sambil memohon).

Waktu bergegas aku mengambil sepedaku yang kuparkir persis bersebelahan dengan sebuah mobil mewah di bawah pohon ceri yang sebagian daunnya mulai mengering. Dengan agak payah kukayuh sepedaku menerjang hari dan keringatpun mulai meraba wajah dan ketiakku. Sungguh hari ini sungguh-sungguh panas (dengan sedikit mengeluh). Selang beberapa menit mendadak kuhentikan laju sepedaku tepat di depan masjid yang di halamannya terdapat pohon kemauan (beringin) yang rimbun, akupun mencoba bernaung di bawahnya. Sebab kepalaku serasa terbakar dan sel-sel otakku mulai meracau ditimpali dengan tenggorokkanku yang mengering, dengan gairah dahaga kureguk sebotol air meneral (yang mereknya sudah kulepas) yang kubeli tadi pagi ketika hendak berangkat. Sambil menghela nafas dan menikmati semilir angini, tiba-tiba saja segerombolan awan di langit yang berwarna merah jingga mendekati ungu tepat berada di atas pohon tempatku berteduh, lalu kurebahkan tubuhku kemudian lamat-lamat mataku terpejam, dan dalam seketika itu pula tiba-tiba saja punggung kanan seperti disentuh oleh jari tangan seseorang (agak terkejut) dengan amat sangat perlahan-lahan dan hati-hati kubuka jendela mataku.

Dan yang pertama kali tampak adalah seonggok wajah, wajah yang lusuh, asing dan serta sorot matanya yang penuh dengan kengiluan. Lalu kugeser pandanganku pada tubuhnya, tubuh yang landai dan kulitnya yang telah usang ditelan waktu (seperti datang dari masa lalu) dan belum sempat aku membuka mataku, tiba-tiba  saja ia  mengangkat kedua telapak tangannya serta suaranya yang begitu landap ia langsung berucap “Namaku Bill, tidak perlu kau bertanya asal usulku, aku hanya ingin menyampaikan sesuatu hal kepadamu dan ini sangat penting, lebih penting dari siapa nanti yang akan jadi pemimpin di negerimu kelak”. Belum sempat ia melanjutkan perkataannya, dengan cekatan aku menyela “Apa maksud tuan? (dengan perasaan bingung serta penasaran). Tanpa jeda sedetikpun ia menimpali “Aku ingin menegaskan bahwa apa yang sedang kubicarakan ini bukanlah sesuatu yang omong kosong (rupanya dia dapat menebak jalan pikiranku) ataupun gula-gula yang dijajakan dengan aneka warna demi menarik perhatian massa, camkam itu!!! (aku pun terdiam begitu juga dengan Bill).

Dengan suara yang agak miris, Bill melanjutkan pembicarannya “Jika apa yang kita nyatakan terlahir dari satu fakta yang tidak kita kenal, ketika panas bumi meningkat, sejumlah daratan dan lautan tenggelam, masihkah kita untuk terus berseteru?” (aku pun terdiam).

Ngrajek, April 2019