Wirid sendiri merupakan salah satu aktualisasi dari proses dzikir. Dzikir itu sendiri secara sederhana bisa diartikan mengingat. Sedangkan wirid lebih ke pengucapan atau pelafalannya.

Spirit yang dibangun malam ini adalah membangun rasa cinta kepada Allah dan Kanjeng Rasul, selain secara khusus juga diperuntukkan untuk Mbah Nun. Rasa cinta itu tak bisa disamaratakan antara satu dengan yang lain. Akan tetapi, dengan berkumpul bersama, kita bisa menyelaraskan frekuensi untuk membangun kemesraan dalam sebuah perkumpulan.

Lantas, kesadaran untuk membiasakan diri berdzikir atau wiridan secara kontinuitas dan istiqomah pada akhirnya akan lebih banyak bermanfaat ke pribadi masing-masing. Sesuai dengan kapasitas sedalam mana kita menyelami makna kata yang dilafadzkan. Tentu, kita melakukan segala prosesi wiridan mesti dilandasi sebagai sebuah pernyataan cinta.
Banyak sekali keutamaan dari dzikir atau wirid itu sendiri, diantaranya sabda Rasul yang menyatakan bahwa tidaklah suatu kaum duduk berdzikir (mengingat) Allah, melainkan mereka dikelilingi rahmat, diturunkan sakinah (ketenangan), dan mereka disebut oleh Allah di hadapan malaikat yang ada di sisi-Nya.

Selain itu, ada pula sebuah cerita ketika ada dua orang Arab (badui) mendatangi Kanjeng Nabi, lantas salah satu dari mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syari’at Islam amat banyak. Perintahkanlah padaku suatu amalan yang bisa kubergantung padanya.” Kemudian Kanjeng Nabi menjawab, “Basahilah lisanmu untuk selalu berdzikir pada Allah.” Ini bisa dijadikan sebagai sebuah kunci, daripada sibuk mempertentangkan bahkan terjebak dalam hal-hal yang sederhana. Alangkah baiknya kita sibuk menyatakan cinta dengan terus dzikir/wiridan, dan lekas menapaki cahaya yang berlapis-lapis itu.

Kebersamaan pada kesempatan kali ini juga dijadikan sebagai sarana untuk ber-muhasabah dalam simpul Maneges Qudroh. Segala unek-unek atau mungkin potensi gesekan diudar. Namun, tidak ada masalah yang perlu dipermasalahkan khususnya suasana di dalam maiyah sendiri yang terbiasa cair.

Unek-unek itu pada akhirnya hanyalah kamuflase dari rasa rindu, yang malu untuk diungkapkan. Karena jika sudah saling bermuwajahah, otomatis semua serasa kembali mesra. Waktu yang berlalu begitu saja hingga pukul 3 dinihari pun menjadi pertanda, bahwa sebenarnya kami hanya rindu untuk saling memadu, memandang, dan kembali menyiapkan formasi untuk siap berjuang dengan landasan cinta di jalan yang sama.


Sirad, 25 Desember 2019