Bertahalli dalam Mulat Saliro


Reportase II Milad Maneges Qudroh Edisi #96

Waktu berlari semakin kencang, menceritakan makna utama kebahagiaan. Lelah seperti memudar dalam keteduhan rindu yang telah dinanti selama ini. Berbagai ucapan dan doa dari berbagai dulur-dulur seolah langsung terwujud dalam acara yang sedang berlangsung. Merefleksikan keberkahan yang ada di setiap sudut tempat acara yang sedang berlangsung. Entah mengapa hanya waktu yang nampak sinis dengan lajunya yang tak biasa. Tapi, inilah waktu, yang tak suka manusia larut dalam kenikmatan dan sangat hobi menahan manusia dalam keresahan.

doc: manegesqudroh

Benar saja, ketika Syaikh Kamba dan Mas Sabrang menaiki panggung waktu sudah menunjukkan pukul 22.30. Walaupun terkesan mulur dari perencanaan kami, tapi waktu yang berlalu bisa menjadi tolak ukur dimana semua pihak setidaknya merasakan kegembiraan. Karena tidak ada penurunan gelagat yang menunjukkan ketdaktertarikan duduk di ruang tersebut. Walau dalam keadaan hujan yang kembali datang menyapa. Sedikit mengingatkan kami akan Milad tahun kemarin yang juga hujan sangat setia membersamai kami.

Setelah Syaikh Kamba dan Mas Sabrang berada di panggung, pemotongan tumpeng segera dilakukan sebagai makna simbolik atas rasa syukur Simpul Maneges Qudroh atas segala nikmat dan barokah-Nya dalam membersamai kita dalam perjalanan sewindu ini. Mas Entong dan Mas Dani menjadi perwakilan dari kami untuk menerima prosesi pemotongan tumpeng sebagai sebuah apresiasi. Karena mereka sudah sangat banyak sekali berperan dalam perjalanan ini.

Untuk memulai pembelajaran Mulat Saliro ini, ada baiknya kita sedikit kembali ke catatan yang sudah tersaji dalam muqadimah acara ini. Dalam falsafah jawa, Mulat Saliro dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk lebih melihat atau memperhatikan ke dalam diri. Setidaknya untuk lebih melatih bermuhasabah sehingga kita sadar, sudah pantaskah kita mencapai goal tujuan perjalanan kita? Ke sebuah ruang dimana kita hanya melihat tajalli Allah dalam pandangan kita?

Kesadaran diri ini sangatlah penting sebagai bekal untuk belajar mefleksikan diri. Sadar diri bukanlah suatu alasan, melainkan jalan untuk lebih mengenal mana yang hanya sebatas ego, mana yang merupakan cinta. Karena dari cinta itulah kita bisa merasakan af’al Tuhan yang begitu lembut. Dimana rahman rahim-Nya meliputi segala hal. Apapun. Apalah arti sebuah perjalanan jika kita tidak memahami diri sendiri? Pada akhirnya kita hanya akan terjerembab dalam materi-materi kenikmatan yang tergambar dalam surga. Dimana mereka seringkali melembagakan golongannya sendiri, bahkan diwujudkan dalam bangunan-bangunan megah nan tinggi.

Tradisi Rasulullah yang Terabaikan

Kemudian Mulat Saliro tersebut mulai dijelaskan oleh Syaikh Nursamad yang memulai dengan menyuruh jamaah untuk sejenak merefleksikan diri sebagai ummat. Karena dalam keadaan sekarang, makna Islam seakan disalahartikan oleh beberapa golongan tertentu melalui tindakan-tindakan mereka. Banyak yang mengaku-ngaku sebagai ummatnya Rasulullah. Kita yakin, kita semua disini juga sangat berupaya keras menjadi pengikut setia Nabi Muhammad.

”Tapi mengapa belum ada tanda-tanda kita akan mencapai taraf yang akan dicapai pada masa Rasulullah di Madinah?” Syaikh Kamba mengajak para jamaah untuk aktif dalam alur pembelajaran ini. Tapi kenapa tidak menghasilkan sesuatu yang sama disaat transformasi budaya ‘hijrah’ pun sekarang sedang menjadi trend. Suatu keadaan yang didambakan masih sangat jauh dari realita, malah rasa-rasanya semakin menjauh walaupun dengan trend ‘hijrah’ tadi. “Apakah ada yang salah?

Kenapa tidak menghasilkan sesuatu yang sama? Jangan-jangan ada ketidaksamaan perintah dengan apa yang ditawarkan oleh Rasulullah.” Kembali Syaikh Kamba mengajak jamaah untuk lebih mendalami keadaan yang terjadi.

Sebuah kabar sekaliber hadits pun bisa mengandung alternatif benar dan salah. Syaikh Kamba memberi contoh dengan sebuah hadits tentang poligami, yang memiliki makna istri 2 sampai 4 adalah sunnah. Tapi di sisi lain, Allah mengindikasikan kepada para hamba-hambaNya yang terkasih dan tersayang bahwa kalian tidak akan pernah bisa berbuat adil. Dan kita pun tidak akan pernah bisa adil dalam berinteraksi dengan kaum perempuan walaupun kita sudah berusaha. Jadi jangan terjerumus ke dalam frase benar dan salah. Apalagi dengan gagah berani membenarkan sesuatu yang selama itu masih di sisi kita atau dalam pemikiran kita. Kebenaran tersebut hanyalah bersifat relatif. Karena kebenaran yang sejati hanya milik Allah.

Selanjutnya kita diarahkan untuk lebih mencermati Piagam Madinah. Dari 42 pasal yang tertera, disitu sama sekali tidak dicantumkan istilah rakyat. Yang ada hanyalah ummat. Kenepa? Menurut penjelasan Syaikh Kamba, beliau menyatakan bahwa Rasulullah pada waktu itu sangat percaya kepada kemerdekaan dan independensi seseorang. Ummat lah yang sejatinya memiliki dirinya sendiri, sedangkan Nabi hanya memberikan penjelasan secara persuasif dan keteladanan sikap. Tidak ada lembaga hukum, sehingga keadaan mengharuskan kita untuk ber-Mulat Saliro dengan berinisiatif untuk lebih sadar diri. Karena kesadaran diri akan lebih mengaktifkan atau membangkitkan hati nurani seseorang.

doc: manegesqudroh

Piagam Madinah sendiri merupakan suatu bentuk persaudaraan. Dimana kalau hal tersebut kita kembali refleksikan lagi pada zaman sekarang yang banyak mengaku sebagai pengikut Nabi. Kita melihat ada sesuatu yang tidak sesuai dalam tradisi Rasul yang diabaikan dalam membangun sebuah peradaban. Tradisi paling utama adalah kemandirian atau independensi seorang hamba. Tapi, faktanya banyak yang masih gusar oleh literasi-literasi yang berbeda tafsiran dengan sumber yang didapatnya. Hingga menimbulkan kecemasan jika ada yang berbeda pandangan darinya, yang memicu konflik-konflik agama yang tidak semestinya. Bukankah Allah adalah sumber dari segala ilmu?

Yang kedua adalah pembebasan diri dari segala ego-ego pribadi. Dalam buku Syaikh Kamba yang berjudul “Kids Zaman Now” hal ini disebut dengan tazkiyatunnafs. Disini kita bisa belajar pada peristiwa bedah dada Nabi Muhammad oleh Malaikat yang merupakan esensi dari pembersihan diri. Seakan menjadi peristiwa yang menjadi awal untuk dapat lebih mengenal hakikat diri. Segala sifat hasad, iri, maupun dengki dikeluarkan dari darah Rasulullah. Hingga sifat kelemah-lembutan, kesabaran dan sikap lebih menghormati orang lain yang tertanam. Atau dalam dunia tassawuf sering disebut dengan tahalli.

Lalu tradisi ketiga adalah menerapkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan ini juga tidak mudah untuk dilakukan. Bahkan, seorang Nabi sendiri sering ber-khalwat (menyendiri/menjauh dari keramaian) untuk dapat melihat seperti apa kebijaksanaan itu. Pada zaman era digital seperti sekarang sudah menjadi hal yang wajar jika kebijaksanaan mulai terkikis dari budaya. Segala perbedaan kurang disikapi dengan ketenangan yang akhirnya hanya menghasilkan kotak-kotak pemikiran tertentu yang saling merasa paling benar.

Semakin kebawah ternyata tradisi Nabi semakin hilang. Di nomer keempat adalah kejujuran. Korupsi dan hoaks merupakan sedikit perwujudan dari hilangnya sikap jujur pada bangsa ini. Jangankan kepada bangsa, kepada diri sendiri saja kejujuran sering terabaikan. Dengan banyaknya konflik merupakan suatu indikasi hilangnya poin terakhir, yaitu cinta dan kasih sayang. Mbah Nun sendiri sering mengatakan jika segala sumber permasalahan yang ada di dunia ini hanya masalah cinta atau tidak cinta.

Kelima tradisi Rasulullah ini perlu kita aktualisasikan, setidaknya diawali dari diri sendiri terlebih dahulu. Kita melatih Mulat Saliro terlebih dahulu, sebelum nanti mengaktualisasikan keluar dari diri kita. Tidak boleh ada yang dijamin surga, tapi kenapa keadaan sekarang banyak yang menjual surga? “Kalau memang seorang hamba, cukup pasrah secara total kepada Tuhan dan tidak berharap apa-apa.” Ungkap Syaikh Kamba. “Seseorang belum bisa mengklaim sebagai seorang pengikut nabi, harus berdaulat dengan diri sendiri, menghilangkan ego-ego, menerapkan kebijaksanaan, dan

menumbuhkan cinta kasih. Baru setelah itu baru bisa mengikuti Rasulullah, syahadat bukan hanya sebatas sertifikat. ” wejangan Syaikh Kamba dalam mengakhiri sesi ini.

doc: manegesqudroh

Pembelajaran dari Syaikh Kamba berlangsung cukup lama. Hingga Syaikh berulang kali menanyakan kepada moderator “apakah masih bisa diteruskan?”. Para jamaah terlihat serius mengikuti dengan raut wajah tegangnya. Untung Sang Moderator perhatian dengan keadaan tersebut hingga sebelum dibikin tegang lagi oleh Mas Sabrang, moderator meminta Mas Sabrang untuk bersedia memamerkan suaranya dalam irama terlebih dahulu. Guna mengendorkan ketegangan para jamaah sedari tadi. Nomer lagu ‘Ruang Rindu’ dirasa menjadi pilihan yang pas di waktu yang telah melebihi batas tengah malam saat itu.

Kejujuran Adalah Modal Utama Menghadapi Masa Depan

Sejenak kita memperhatikan sisi lain dalam acara ini, Dimana diluar area ruang belajar, tepatnya di tempat transit. Para Penggiat tidak henti-hentinya melayani tamu yang ingin menyantap makanan yang telah disediakan. Pun dengan kopi dan teh yang berulang kali mesti di-reload demi menghilangkan dahaga para jamaah. Walaupun tidak bisa menyimak proses sinau bareng, tapi semoga ilmu yang didapat akan lebih bermanfaat bagi yang berjuang di balik layar ini. Dan Allah Maha Adil, bukan? Acara ini sangat memuaskan berkat kalian. Maturnuwun.

Mas Sabrang memulai dengan sebuah pandangan jika hidup ini terlalu banyak peraturan. Menurut Mas Sabrang berpendapat jika ketika dewasa peraturan menjadi bersifat relatif. “Kalau kita sampai tua harus ada peraturan, maka kita akan jadi anak kecil terus yang butuh peraturan. Karena anak kecil belum bisa mengukur dirinya sendiri.” Ungkap Mas Sabrang.

Sadar atau tidak kita sering mengalami kekacauan atau chaos yang terwujud dalam perasaan khawatir. Hal ini dapat dibuktikan ketika kita akan merasakan kekhawatiran dalam gelap daripada terang. Disaat gelap pendangan kita akan sangat terbatas. Namun, ketika terang semuanya jadi lebih aman karena dengan pandangan yang jelas, semuanya jadi bisa lebih diprediksi. Hal ini

berkaitan dengan konsep kekhalifahan dimana poin utamanya adalah mengubah suatu ketidakteraturan menjadi sesuatu keteraturan.

Mas Sabrang kemudian menghubungkan kelima tradisi Rasul tadi dengan memberikan nilai dari sudut pandang yang berbeda. Ketika chaos dan order dirasa hanya seperti lingkaran yang terus menerus akan kita alami. Sehingga dunia hanya penuh dengan drama sandiwara. “Mati aja kalau begitu” ungkap Mas Sabrang, karena semua itu bukan menjadi sebuah urusan pada akhirnya. Yang membuat kita bertahan terkadang hanya bermodalkan kangen. Akan tetapi, dengan kelima poin tadi, kita bisa memegang kejujuran sebagai modal utama untuk berupaya meminimalisir chaos yang terjadi. “Strategi menghadapi masa depan adalah kejujuran karena anda punya jaminan tidak mempunyai sebuah penyesalan di masa depan.”pungkas Mas Sabrang.

Hiburan dari Mas Sabrang dan Mas Doni kembali menyegarkan suasana di malam yang terlampau larut ini. ‘Sandaran Hati’ oleh Mas Sabrang dilanjutkan ‘More Than Words’ oleh Mas Doni, dengan jamaah yang dengan sayu-sayunya ikut menyanyikan lagu bersama. Segar. Lalu Pak Amron sedikit bercerita mengenai pengalamannya. Beliau menambahkan sedikit pesan bahwa memberikan hak orang lain itu akan menyelesaikan permasalahan kita. Tak lupa, beberapa jamaah pun diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan.

Berhubung waktu sudah hampir menunjukkan pukul 02.00, moderator segera meminta para narasumber untuk memberikan pesan pamungkasnya. Mas Sabrang kembali menyampaikan tentang chaos dan order, dimana setiap orang memiliki skalanya masing-masing. Islam itu dinamis. “Allahsenantiasa setia disaat mencipta,” kata Mas Sabrang dengat raut kemesraannya. Lalu, Syaikh Kamba dipersilahkan untuk memungkasi acara dengan memimpin doa bersama. Saling bersalaman sembari diiringi sholawat dari Wakijo lan Sedulur menjadi tanda berakhirnya acara Milad ke-8 Maneges Qudroh. Uapan terima kasih tak henti-hentinya kami sampaikan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam acara ini. Semoga keberkahan dan keselamatan selalu menaungi kita semua.

Magelang, 6 Februari 2019

Tulisan Terkait